Waktuku, tidak lagi Berhenti di Kamu
Memiliki kisah cinta masa remaja lagaknya menjadi kenangan lucu bagi kebanyakan orang. Begitupun denganku. Cinta monyet, begitu biasanya orang-orang menyebutnya. Kembali teringat dimasa-masa itu, sorakan riuh saat kita berakhir duduk bersama di satu meja lewat sebuah undian. Juga teringat awal mula aku tahu kalau kamu tertarik denganku, lewat mulut ember sahabatmu, Baim. Kala itu, entah karena malu atau marah, kamu tak hanya mengabaikan Baim tetapi juga mengabaikanku.
Namun, berkat Baim juga kita akhirnya bisa kembali bertemu hari ini.
"Hai, sudah lama nunggu ya?" lamunanku terhenti usai melihat kehadiranmu lagi dalam versi dewasa, tepat di depanku. Siapa sangka, kita bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
"Hai, enggak kok. Aku juga baru sampai"
Kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya ternyata cukup membuat kita menjadi sangat canggung. Dengan gestur kikuk, kita lantas memutuskan untuk sama-sama duduk di kursi yang terletak berhadap-hadapan ini.
Usai duduk, kuarahkan pandangan mataku untuk melihat ke arahmu. Seketika aku tak bisa menyembunyikan senyum geli. Si kecil Dito yang dulu tingginya sama denganku, kini telah menjelma menjadi sosok yang sangat jangkung. Kursi yang didudukinya pun kini menjadi terlihat sangat mungil. Garis wajahnya yang dulu tertutupi lemak, telah tergantikan dengan lekuk tegas. Rahangnya memperlihatkan bulu janggut tipis yang tampak baru saja dirapikan. Dito kecil itu, benar-benar telah menjelma menjadi sosok pria matang berusia 28 tahun.
"Kamu apa kabar Dee?"
Aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku usai mendengar caramu memanggilku. Panggilan Dee yang sudah lama sekali tidak kudengar.
"Aku baik, Dot. Kamu gimana?" aku lantas memberanikan diri, untuk juga memanggilmu dengan nama yang juga sudah lama tak terucap dari mulutku.
"Baik juga,"
Aku lagi-lagi tak dapat menyembunyikan senyum geli. Dito yang sekarang ternyata masih sama, gemar mematikan topik dengan segala ucapannya.
Dulu usai lulus dari SMP, aku dan Dito tidak lagi saling berkomunikasi hingga bertahun-tahun lamanya. Alasannya, jangan tanyakan padaku. Karena Dito seharusnya bertanggung jawab penuh untuk menjawabnya. Ya, dia yang sudah janji akan melanjutkan di SMA yang sama denganku, tiba-tiba saja menghilang dan tidak bisa dihubungi.
Sebenarnya ada banyak sekali hal berisik di kepalaku yang hendak kutanyakan pada Dito. Tapi, entah kenapa kecanggungan membuatku ragu mengutarakannya. Sedih rasanya, merasa asing dengan orang yang dulu membuatku merasa begitu nyaman saat berdekatan.
"Kenapa dulu ngilang Dot?"
"Maaf ya Dee, aku dulu ingkar janji padamu"
Nyatanya, bukan sebuah permintaan maaf lengkap dengan raut wajah penuh penyesalan seperti ini yang kuharapkan sebagai jawaban atas pertanyaanku, Dot. Tampaknya, sekarang pun kamu enggan menjelaskan hilangnya kamu kala itu yang sangat tiba-tiba ya Dot.
"Ya sudahlah ya, toh sudah berlalu bertahun-tahun. Untuk apa mengkungkit masa bocah kita dahulu. Karena tampaknya, yang menganggap masa kita begitu berarti hanya aku ya Dot" bukan hanya Dito yang berhasil dibuat terperangah dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku. Aku pun demikian. Kata demi kata yang rasanya reflek keluar sebagai balasan kekesalanku pada ucapan maaf Dito.
"Padahal ada banyak hal menyenangkan yang sudah aku rancang, untuk bisa kulakukan dengan kamu Dot, saat kita seharusnya bisa satu SMA bersama" Karena sudah terlanjur terucap, kuputuskan untuk meluapkan semuanya. Semua kekesalan yang kupendam, selama belasan tahun kehilangan sosok Dito.
"Kamu bahkan menjanjikan,__" ucapanku terhenti, ragu tiba-tiba menyelimuti diriku.
"akan jadi orang pertama, saat aku sudah boleh berpacaran" akhirnya kalimat itu terucap.
"Gara-gara kamu pergi gitu aja ya Dot, aku melewatkan indahnya masa berpacaran saat remaja" ucapanku disertai dengan tawa canda, yang sayangnya lebih terdengar seperti tawa miris.
"Kamu tahu karena apa? karena masa remajaku, kuhabiskan untuk menunggu dan mencari kamu, yang gak pernah muncul itu Dot"
Hening kembali tercipta. Dito masih diam. Dan terus diam. Tampaknya, lagi-lagi ia enggan menjelaskan apapun padaku. Aku menghelas nafas panjang. Mungkin memang beginilah akhir kisahku dengan Dito, sosok cinta monyetku.
"Datang ya, kalau kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu"
"Delapan tahun Dee," Dito akhirnya bersuara. Namun aku hanya dapat membalas ucapan singkat Dito dengan tatapan bingung.
"Ini pertemuan kita setelah delapan tahun lalu. Bukan belasan tahun"
Aku masih tak memberikan respon pada ucapan Dito.
"Aku menemuimu kala itu"
"Tapi kamu tidak benar-benar muncul di hadapanku kan Dot?" kalau tebakanku benar, Dito di delapan tahun lalu, hanya melihatku tanpa menyapaku. Dan fakta itu, membuatku semakin merasa kesal dengannya.
"Itu artinya, kita tidak benar-benar bertemu Dot. Tapi, bagaimana menurutmu? apakah aku banyak berubah dari yang kamu temui di delapan tahun lalu itu? Karena kalau kamu tanya hal serupa, Dodot sahabatku, si kikuk yang dulu mudah salah tingkah kalau aku goda, sudah sangat banyak berubah"
"Berubah, sampai aku sangat merasa kehilangan sosoknya"
"Maaf, Dee"
Lagi-lagi hanya ucapan maaf.
"Jangan ngilang lagi ya Dot. Nanti, kalau sudah siap, tolong ceritakan alasan menghilangmu saat itu. Setidaknya, ceritakan sebagai Dito yang merasa bersalah kepada sahabat yang dicampakkan bertahun-tahun lamanya ini"
"Aku rindu teman kikukku," ucapku dengan juga menampilkan tawa renyah. Kuputuskan untuk benar-benar mengakhirinya. Kini, aku benar-benar sudah selesai dengan rasa kesalku.
"Jangan lupa, datang ya" kuingatkan lagi soal ucapan yang tadi sudah kuucapkan sembari menunjuk pada undangan yang kuletakan di meja.
"Ajak istrimu," ucapku lagi. Sebelum benar-benar pergi, kupastikan...waktuku, tidak lagi berhenti di kamu.
Magelang, 2 September 2024
Comments
Post a Comment