Kota yang Tidak Ikut Pergi

Seperti biasanya, kami hanya saling melemparkan pandangan sekenanya dan bertukar senyum canggung sebagai bentuk sapaan. Hingga hujan di malam ini, merubah segalanya. 
"Belum datang jemputannya?" obrolan itu, keluar lebih dulu dari mulutku. Penuh keragu-raguan. Setelah kuputuskan melewatkan bus yang seharusnya kutumpangi.
Dia hanya menggeleng pelan, raut wajahnya tampak mulai gelisah usai melihat jarum jam di tangannya. 
"Saya tunggu," lagi-lagi kalimat tak terduga, keluar dari mulutku. 
"Terimakasih" akhirnya aku mendengar suaranya. Usai selama beberapa bulan ini, hanya saling bertegur sapa lewat senyum canggung. 
Selama beberapa menit, kami hanya saling diam. Kenapa canggung? karena pada dasarnya kami hanyalah dua orang asing. Yang sama-sama kerap berada di halte yang sama, pada jam yang terlalu sering disebut kebetulan. 
"Mau ikut mendengarkan?" lagi-lagi, aku memilih berusaha memecah keheningan yang semakin membuat suasana terasa begitu canggung ini. Kusodorkan satu bagian dari headset kabelku yang tengah menyetelkan salah satu acara radio yang memang kerap menemani perjalanan pulangku. 
"Boleh," dia menerima uluranku. Namun belum sempat didengarkannya, sebuah mobil yang tampak berbeda dari yang biasanya aku lihat berhenti tepat di depan kami. 
"Mbak Rania," Ah, jadi namanya Rania.
"maaf tadi mobilnya mogok, jadi harus dibawa ke bengkel" akhirnya aku bisa melihat sosok dibalik mobil yang selalu menjemputnya. Dari seragam yang dikenakannya, tampak seperti supir pribadi.
"Saya pamit duluan. Terimakasih ya, mas..."
"Baskara" 
"Terimakasih, mas Baskara" dia tersenyum padaku. Bukan senyum canggung. Tapi benar-benar sebuah senyuman. 
Mulai hari itu atau entah kapan tepatnya, kami bukan lagi dua orang asing yang secara kebetulan saling bersinggungan karena menunggu jemputan. Sebuah acara radio lainnya juga kerap aku dengarkan di rutinitas menungguku kali ini, bersama Rania. 
"Ide yang aku usulkan tadi berhasil dapat pujian"
"Oh iya? selamat" 
Bahkan tidak ada lagi keheningan yang canggung itu. Topik sederhana hingga seacak apapun, kami usahakan demi bisa mengobrol.
Dan entah kapan tepatnya, kata "saya" berubah menjadi "aku", kata "mas Baskara", berubah menjadi "Bas". Dan dari hanya di halte, berubah ke warteg sederhana di dekatnya, lalu ke bioskop, dan tempat-tempat yang lebih jauh lagi. Yang hanya bertemu saat pulang bekerja, lalu berkembang di hari libur, dan yang selalu saling menyempatkan di waktu senggangnya. 
"Kita mau seperti ini terus Bas?" ucapan Rania yang aku tahu sekali, ke mana arahnya. Namun seperti pertama kali aku mengajak mengobrol Rania, kali ini pun aku dipenuhi dengan keragu-raguan. Bedanya, kala itu aku akhirnya berani. 
"Nanti ya," hanya jawaban itulah yang bisa kuberikan pada Rania.
"Gak papa, aku tunggu" Jawaban Rania yang membuatku seperti de javu, dengan percakapan pertama kali kami kala itu.
Usai menjalani hal-hal menyenangkan bersama, pada akhirnya aku dan Rania harus mengakhirinya. Kenaikan karirku tidak luput dari proses mutasi, ke tempat yang berjarak ribuan mil dari Rania. Kini yang kami usahakan bukan lagi bertemu setiap ada waktu senggang, tetapi saling menghubungi setiap ada waktu senggang. Tentu masih dengan cerita sederhana dan acaknya.
"Bas," ada jeda pada ucapan Rania.
"Kapan ketemu?" pertanyaan yang sudah kerap Rania lontarkan. Dari yang blak-blakan, lalu penuh harap, hingga terdengar penuh keraguan seperti saat ini. Bukan tanpa sebab, pertanyaan itu terus Rania tujukan padaku. 
"Tunggu aku ya" 
Sebuah kalimat singkat dengan berisi janji di dalamnya, namun langsung dimengerti sepenuhnya oleh Rania di hari aku pergi. Sebuah hal yang begitu kami dambakan.
"Akhir tahun ini, aku ke situ ya. Aku main ke rumah" Akhirnya.
Raut wajah senang, terpancar di wajahnya yang spontan membuatku ikut tersenyum bahagia. Aku akhirnya punya sesuatu yang bisa kupakai untuk datang, bukan sekedar janji. Sembari kulihat tabunganku.
Namun lagi-lagi, aku ragu. Usai kulihat, halaman rumah Rania kedatangan sesuatu yang bukan aku. Bukan milik keluarganya. Dan di momen itu, saat ini, rasanya aku tak memiliki hak untuk mengetuk.
Kebohongan pertamaku ke Rania akhirnya tercipta.
Maaf ya, aku gak bisa ke situ sekarang. Gagal dapet cuti. 
Pesan singkat lengkap dengan helaan nafas panjang, kukirimkan ke Rania. 
Lama, tak kunjung ada balasan. Hingga malamnya, sebuah pesan muncul.
Gak papa, Bas. Jaga kesehatan ya.
Kalimat tersingkat pertama Rania, untukku. Namun masih terasa hangat.
Enam bulan setelahnya,
"Bas," ada jeda sejenak.
"Aku ke situ ya" 
"Jangan, nanti sama aja kita gak bisa ketemu" kalimat spontan super cepat yang seketika kusesali. Dan panggilan berakhir, begitu saja. Pertengkaran pertamaku bersama Rania, tercipta.
Bas, aku masih nunggu kamu ya
sebuah pesan singkat muncul, seminggu setelah kami saling diam. Atau lebih tepatnya, aku memilih diam, enggan menjelaskan maksud ucapan kasarku kala itu.
Kalau ada waktu, aku pasti usahakan ke situ ya.
Bohong kamu Bas.
Panggilan video yang intens, mulai berubah menjadi panggilan suara singkat, hingga menjadi pesan sekenanya.
"Bas," Rania hanya memanggil namaku dengan suara lirih, namun aku langsung paham ke mana arahnya.
"nanti aku ke situ ya" 
Helaan nafas, terdengar jelas. 
"Oke" Ada jeda panjang. Hening.
"Kamu jaga kesehatan ya"
Tidak ada lagi kalimat "aku tunggu", dan panggilanpun berakhir begitu saja. 
Obrolan sederhana dan acak kami yang sangat menyenangkan itu, berubah sepenuhnya dengan hanya saling menanyakan kabar dan ucapan basa basi tak penting lainnya. Dan akhirnya hilang. Kami sepertinya, sepenuhnya asing. 
Hingga ketika akhirnya waktu yang kuanggap tepat itu, terasa tidak lagi berarti. 
Tahun demi tahun berlalu, tanpa Rania.
Kalau boleh diberi kesempatan sekali lagi, ingin sekali kuucapkan,
Ran, aku sudah sampai di situ. di Kota itu. 
Aku hanya tidak sampai di kamu.
Maaf ya.

Magelang, 14 Desember 2025

Comments

Popular Posts