Teduh dan Peri Bumi

Di sebuah negeri bernama Bumi, berdirilah sebuah desa yang begitu makmur. Tanahnya subur, selalu dilimpahi hasil panen yang luar biasa melimpah, dan tidak pernah sekalipun mengalami kesulitan. Di desa nan makmur itu, hiduplah satu keluarga, Pak Made, Ibu Made, dan anak laki-lakinya Teduh.
Pak Made adalah seorang petani yang tekun merawat sawah padi miliknya. Pak Made tak pernah terlambat memberikannya pupuk, sehingga padi-padi Pak Made tumbuh subur dan terhindar dari hama-hama nakal.
Namun suatu hari, desa yang makmur itu tiba-tiba saja di landa kemarau yang panjang hingga membuat desa tersebut mengalami kekeringan. Tanah-tanah subur di sawah, mulai retak karena kurangnya pengairan. Perkebunan sayur milik warga pun gagal panen karena mati. Hingga sungai-sungai di desa itupun juga mulai kering.
Pak Made juga menjadi salah satu petani yang mengalami gagal panen pada hasil sawahnya. Hal ini membuat Pak Made begitu sedih. Padi-padi yang selama ini dirawatnya dengan tekun, harus mati begitu saja.
"Kita harus mencari sumber air" ujar kepala di desa tersebut.
 "Gali semua tempat hingga ada yang menemukan aliran air" ujar sang kepala desa lagi.
Mulailah para warga untuk mencari sumber air, di gunung hingga beberapa tempat di desa tersebut.
Teduh yang ikut bersedih melihat ayahnya itu pun turut bergabung mencari sumber air. Ia mulai menaiki gunung di desa tersebut. Kakinya terus melangkah menelusuri gunung yang cukup tinggi itu.
"Untuk apa manusia berbondong-bondong datang ke sini?" Teduh yang terkejut dengan suara tiba-tiba yang didengarnya itupun, spontan menghentikan langkahnya.
"Siapa kamu?" ujar Teduh berusaha mencari sumber suara yang didengarnya itu.
"Aku di pundakmu" ujar suara itu lagi.
Teduh pun segera melihat ke arah pundaknya. Terlihat sosok kecil, bersayap, dan ada cahaya hijau di tubuhnya.
"Kamu siapa?" tanya Teduh lagi.
"Aku peri Bumi"
"Peri?"
"Iya, akulah yang ditugaskan pencipta semesta untuk menjaga negerimu ini. Itulah kenapa namaku peri Bumi"
"Namaku Teduh, aku sedang mencari sumber air. Desaku sedang mengalami kekeringan. Semua petani di desaku gagal memanen hasil kebunnya" Teduh pun menjelaskan mengapa ia berjalan menelusuri gunung ini.
"Manusia itu benar-benar tidak tahu diri! Mereka hanya merusak negerinya sendiri ini!"
Teduh yang bingung dengan ucapan peri Bumi itupun kembali bertanya, "apa maksud ucapanmu?"
"Ayo ikuti aku"
Peri Bumi perlahan mulai terbang dengan diikuti oleh iringan langkah Teduh. Peri Bumi terus terbang, membawa Teduh semakin masuk ke dalam hutan di gunung ini. Namun pemandangan aneh terus Teduh lihat di sepanjang hutan tersebut.
Hutan itu tidak ditumbuhi pepohonan yang rindang. Terlihat beberapa pohon hanya menyisakan batang tanpa daun, dan hanya sedikit yang memiliki daun. Itupun sudah mulai menguning dan berguguran karena kemarau ini.
Peri Bumi pun akhirnya berhenti terbang.
"Lihatlah!" ujarnya berseru pada Teduh.
Terlihat hamparan tanah gersang dengan retakan-retakan di setiap bagiannya, karena teriknya matahari yang bersinar di atasnya. Teduh dapat melihat dengan jelas beberapa tunggul pohon sisa penebangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Teduh, prihatin dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.
"Manusia telah menebang semua pohon di sini, tanpa menanaminya kembali. Dewi hujan tidak bisa menurunkan hujan ke bumi, karena tanah tidak akan bisa menyerapnya, dan tidak ada pohon yang bisa menahannya. Kalau tetap diturunkan hujan, maka desa mu akan mengalami bencana banjir."
Teduh kini paham apa yang membuat desanya kekeringan. Mungkin mereka begitu rajin merawat kebun sayurnya hingga sawahnya. Namun mereka telah berperilaku buruk dengan menebang pohon-pohon ini, yang artinya juga telah merusak bumi nya sendiri.
"Aku akan pulang dan menyampaikan hal ini pada seluruh warga desaku."
Peri Bumi tersenyum senang mendengar ucapan Teduh.
"Aku berjanji akan terus menjaga bumi dan tidak merusaknya" ujar Teduh lagi.
Teduh lalu segera kembali ke desanya, dan menyampaikan apa yang dilihatnya tadi. Warga desa pun mulai menyadari kesalahannya dan berbondong-bondong ke gunung untuk kembali menanami pohon yang selama ini telah mereka tebangi.
Tak selang berapa lama, desa Teduh pun diguyur hujan lebat. Sungai-sungai mulai mengalir kembali dan tanaman-tanaman perkebunan milik warga juga mulai subur kembali. Pak Made pun juga tidak lagi mengalami gagal panen, begitupun dengan petani lainnya.
Sejak saat itu, desa itupun kembali menjadi desa yang makmur. Para warga semakin gemar merawat lingkungan di sekitarnya. Tak lupa, para warga juga rajin melakukan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon yang ditebangnya.
Kini peri Bumi dapat tersenyum senang melihat bumi yang dijaganya tidak lagi rusak.

Magelang, 22 Agustus 2019

Comments

Popular Posts