Bertemu

 Langit sore terlihat begitu murung. Gumpalan awan tampak bersiap membasahi bumi. Di sudut taman, seorang gadis tampak enggan meninggalkan ayunan yang didudukinya.
"Pulang, hujan akan segera turun" ujarku sembari mendekatinya.
"Memang kenapa kalau hujan? Kenapa manusia terus menghindari hujan. Apa salahnya hujan?"
Keningku mengkerut tak paham dengan rentetan kalimat yang diucapkan gadis itu. Aku bahkan bergidik ngeri melihat mata nanarnya yang seolah siap menerkamku sewaktu-waktu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" ujarku padanya.
"Kau pun menganggapku aneh bukan?" ujarnya bertanya balik padaku.
Entah apa yang sebenarnya kulakukan saat ini. Berbincang dengan seorang gadis aneh yang bahkan tak ku ketahui nama maupun identitasnya. Mungkin saja dia bukan orang waras, pikirku dalam hati.
"Pergilah, toh memang tak ada yang bisa bertahan bersamaku satu detik pun" ujarnya lagi. Kini nada bicaranya terlihat begitu putus asa. Dan entah bagaimana, aku merasa iba padanya.
Aku memilih tak melanjutkan perbincangan ini. Tes... bulir-bulir rintik hujan mulai berjatuhan. Akupun menangkupkan pelindung kepala dari jaket yang ku kenakan sembari memutuskan untuk segera pergi sebelum hujan turun semakin deras. Dan aku tak lagi memperhatikan gadis aneh itu.
"Sore, tolong antarkan makanan ini ke kedai kakakmu nak. Dia bilang pada ibu, dia akan pulang malam" ujar ibu begitu aku selesai mandi.
"Baik bu" ujarku patuh seraya mencomot tempe goreng di meja makan yang telah disiapkan ibu.
Hujan ternyata tak jadi turun. Namun langit rasanya masih terlihat murung dengan gumpalan awan abu yang menutupinya.
"Kak... dari ibu" ujarku menyerahkan bekal tersebut pada Binta, kakakku.
"Makasih ya adikku" ujar Binta dengan jahilnya mulai mengacak-acak rambutku.
"Iihh!!" Aku yang kerap sebal dengan tingkah kakakku itupun berusaha menyingkirkan tangan Binta dari kepalaku.
"Hujan, ikut makan yuk"
Aku menatap kakakku bingung. Hujan, siapa yang dia panggil. Pikirku.
"Terimakasih mbak. Tapi biar saya selesaikan seduhan kopi ini" sebuah suara yang tampak tak asing terdengar berasal dari pantri kedai ini.
Tak berapa lama, muncul sosok gadis yang tadi kutemui di taman tampak tersenyum ke arah Binta dengan cangkir di tangannya.
"Americano terakhir yang saya buat hari ini, khusus untuk mbak Binta" ujarnya sembari menaruh cangkir itu ke arah Binta. Dan sepertinya ia belum menyadari kehadiranku, hingga aku berdehem yang entah mengapa kulakukan.
"Kenalkan, adikku Sore. Dia baru menyelesaikan kuliahnya di Semarang" ujar Binta akhirnya memperkenalkanku.
"Hujan" ujarnya seraya mengulurkan tangannya ke arahku.
Apa ini? Apa dia tak mengenaliku? atau berpura-pura tak kenal?
"Kau si gadis taman itu kan?" ujarku padanya.
"Kalian sudah saling bertemu?" tanya Binta.
"Maaf mbak, tapi aku harus menggiling beberapa biji kopi yang sudah akan habis" dan kini, ia mengabaikanku.
"Siapa sih mbak??" tanyaku mulai kesal.
Pertemuan pertama, ia marah-marah tidak jelas denganku dan pertemuan kedua, ia mengabaikanku.
"Kenapa?? Suka?" tanya Binta. Senyuman dan tatapannya tampak menggodaku.
"Barista di sini. Banyak yang berusaha mendekatinya. Jadi kalau kamu memang suka, aku sarankan carilah trik paling unik untuk mendekatinya. Dia itu beda dari wanita-wanita yang biasanya" ujar Binta lagi.
"Menghindari bukan berarti membenci. Menghindari bukan berarti hina. Hanya saja terkadang keharusan lah yang membuat ia dihindari." ujarku mendekati gadis yang ternyata bernama hujan itu.
Ia menoleh ke arahku dengan tatapan bingung.
"Aku menjawab pertanyaanmu tadi sore. Tentang kenapa manusia terus menghindari hujan" ujarku lagi.
Kurasa gadis ini membuatku tertarik untuk mendekatinya. Seperti kata Binta, ia berbeda.
"Begitukah menurutmu?" ujarnya masih acuh tak acuh padaku. Fokusnya bahkan tak teralihkan dari mesin penggiling kopi yang tengah dipegangnya itu.
"Iya," ujarku.
"Maka orang tua ku pergi, pamanku membuangku ke jalanan, dan juga kakak yang bahkan tak sudi bertemu dengaku. Itu semua keharusan yang harus mereka lakukan padaku?" 
Aku terdiam. Tak menyangka akan mendengar semua kalimat itu darinya.
"Kau salah menafsirkan kata menghindari. Jangan pernah menilai sesuatu secara positif. Biar kuberitahu, tak ada yang baik di dunia ini. Jangan mempercayai apapun sebagai kebaikan" ujarnya lagi dengan mata yang kini tengah fokus menatapku.
"Maka kau pun salah jika menilai semua hal di dunia ini jahat" ujarku.
"Sore, biar kuceritakan betapa jahatnya dunia ini padaku"
Hatiku berdesir. Entah mengapa aku menyukai cara ia memanggil namaku dengan suaranya yang tampak begitu mengintimidasi.
"Ayahku seorang bajingan yang meninggalkan keluarganya demi seorang pelacur. Ibuku tak kalah jahat. Dendam serta kebenciannya terhadap ayahku, ia lampiaskan pada anak-anaknya. Kau lihat luka bakar ini, semuanya perbuatan ibuku. Kakakku yang membenci keluarga ini, pergi meninggalkan kami. Ia putuskan hubungan dengan keluargaku. Dan pamanku, ia bahkan tak kalah berengseknya dari ayahku. Aku di jual ke preman jalanan. Lalu menurutmu, jika semua orang yang kutemui jahat, apakah masih ada kebaikan yang harus kupercayai dari dunia ini?"
"Aku adalah kebaikan itu Hujan. Kau bisa mempercayaiku" aku benar-benar tulus dengan ucapan itu. Perlahan, ku beranikan diri merengkuh tubuh mungil Hujan yang sudah terlihat begitu lemah setelah menceritakan kisah malangnya itu.
Namun rengkuhanku di tepis oleh Hujan.
"Terima kasih Sore. Untuk saat ini satu hal yang harus kau tahu. Aku senang bertemu denganmu. Namun otak dan hatiku masih saling berdiskusi" ujarnya. Untuk pertama kalinya, ku lihat senyuman mengembang di wajahnya. Cantik sekali.
"Berdiskusi untuk apa?"
"Bertemu"
"Bertemu?"
"Apakah harus terus kulanjutkan pertemuan ini, atau sudah cukup sampai sini saja"
Senyumku merekah mendengar kalimat Hujan itu.
"Maka otak dan hatiku hanya bisa menunggu hasil dari diskusi itu" ujarku diikuti dengan senyuman dari Hujan.

Magelang, 28 September 2019

Comments

Popular Posts