Secangkir Kopi dan Gadis Metropolitan (Part III)

Sore itu, mataku tak dapat beralih dari gadis yang meski memiliki momen pertemuan yang singkat denganku, namun cukup untuk membuatku terkesan dengan kehadirannya.  Ia datang kembali ke kedaiku. Seraya tersenyum, ia melambaikan tangannya ke arahku.
"Hai, gak keberatan kan kalau aku ke sini lagi?" ujarnya yang tiba-tiba saja sudah berada di dekatku.
"Enggak sama sekali Rei," ujarku untuk pertama kalinya menyebut namanya.
"Terima kasih...aku pesan__"
"Americano?"
Ia tertawa entah untuk alasan apa. Aku hanya berusaha menebak kopi yang sedari awal menjadi perantara kami ini.
"Hari ini aku ingin dibuatkan kopi termanis darimu Bi... sekedar informasi, aku benar-benar tidak menyukai americano. Terlalu pahit di tenggorokan"
"Lalu mengapa meributkan pesanan yang bahkan tidak kamu sukai Rei?" ujarku padanya seolah kembali mengingatkan awal pertemuan kami.
"Karena aku ingin dapat perhatianmu Bi" satu kalimat yang langsung membuatku kembali terdiam. Reinyai lagi-lagi berhasil menang dariku. Ia membuatku tak berkutik sedikitpun.
***

Magelang, 10 April 2020

Comments

Post a Comment

Popular Posts