Gadis Berparas Rembulan
Hati ini berdesir seketika kala mengingatnya. Wanita anggun nan elok rupawan yang kutemui tak sengaja di toko kelontong.
Mata kami tak sengaja bertemu tak lebih dari 10 detik, tapi aku dapat melihat dengan jelas mata coklat indahnya. Siapa dia ini? Pikirku kala itu.
Sejak itu, aku tak pernah absen melajukan motorku melewati toko kelontong itu di waktu sore hari. Di waktu itulah, aku dapat melihat gadis berparas rembulan yang kusukai di sana. Ya, aku menyebutnya sebagai gadis berparas rembulan. Tahu karena apa? Karena segala yang ada padanya tampak bersinar bak indurasmi.
Sore itu, ibu menyuruhku untuk membelikan gula. Betapa aku sangat senang dan langsung melaju kencang dengan motorku menuju toko kelontong tempat gadis berparas rembulan kerap ada.
Dengan penuh kegugupan, aku menerima uluran gula dari tangannya.
"Aku tahu, kamu sering lewat di sini" untuk pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Ah! Kurasa dia lebih bersinar dari rembulan saat ini.
"Gendhis" kini ia bahkan mengulurkan tangannya ke arahku.
"Ra...sa"
Ia kini tertawa entah untuk alasan apa.
"Namamu Rasa?" Ah ternyata kegugupan membuatku salah menyebutkan nama.
"Raka" ujarku jauh lebih tenang.
Sejak saat itu, entah bagaimana kami menjadi akrab. Ya! Aku berteman dengan gadis berparas rembulan yang kini kutahu bernama Gendhis. Kami kerap menghabiskan waktu bersama, mulai dari menonton hingga berjalan-jalan berboncengan dengan motorku.
Aku bahagia sekali tentunya, tapi tentu saja mentalku belum sekuat baja untuk berani menyatakan rasa sukaku padanya.
Sore ini, ia mengajakku menikmati senja sore di pinggir jalan dengan pemandangan perkebunan padi yang terhampar luas di sekitarnya. Ia menyenderkan kepalanya tanpa ragu di pundakku. Matanya terpejam, nafasnya berhembus tenang. Doaku, semoga ia tak mendengar detak jantungku yang sudah tak karuan bunyinya.
Entah darimana keberanian itu datang, aku tiba-tiba saja mengucapkan kalimat itu. "Gendhis, aku menyukaimu"
"Aku tahu" dan betapa semakin terkejutnya aku kala mendengar jawabannya.
"Lalu?" tanyaku berusaha tetap tenang.
"Aku ingin menceritakan satu hal padamu Raka. Tentangku.." kini ia tak lagi menyenderkan kepalanya dibahuku. Tubuh kami saling berhadapan satu sama lain.
"Aku siap mendengarkan" ujarku.
"Kamu belum pernah mendengar nama lengkapku bukan?"
Aku menggeleng pelan.
"Ada gelar panjang yang terikat erat di balik namaku. Ada gelar yang bahkan lebih sulit ditembus dibandingkan tameng baja sekalipun"
Aku masih menyimak pembicaraan Gendhis. "Aku berasal dari keluarga jawa kental yang masih mengagung-agungkan perihal kasta dan suku. Apa kamu siap menghadapinya?"
Aku terdiam,
"Suku kita berbeda Raka. Tapi aku berharap kamu mau berjuang untuk itu"
Aku masih terdiam.
Gendhis menghela nafas penuh ketenangan. Ia tersenyum, dan mengecup lembut keningku.
"Aku siap menunggu jawabanmu. Aku juga menyukaimu Raka"
Magelang, 22 Juni 2020
Comments
Post a Comment