Kala Meneduh Sore itu

Bau tanah semerbak keluar kala tetes demi tetes air hujan mengguyur. Orang-orang berhamburan menghindari untuk basah dengan wajah kesal, termasuk diriku. Hujan datang diwaktu yang benar-benar tidak pas. Lihatlah keadaan disekitarku saat ini. Becek dipenuhi genangan-genangan air. Belum lagi tubuhku yang sudah berkeringat tak karuan dan meminta untuk segera diguyur dan dibaluri sabun. 
"Siall!!" umpatku penuh kesal saat berhasil berteduh di sebuah halte bus yang cukup ramai dipenuhi orang-orang yang hanya sekedar berteduh sepertiku dan juga tengah menunggu bus datang. 
"Jangan marah, hujan turun juga karena manusia yang memintanya" sebuah tangan mengulurkan permen ke arahku. Mataku seketika menatap siapa pemiliknya. Sosok gadis berkerudung tampak tersenyum ke arahku. 
"Terima kasih. Tapi tidak perlu" ujarku mengabaikan permen pemberian gadis itu. 
Tanpa sadar, mataku sesekali mencuri pandang ke arahnya. Gadis itu ternyata memiliki sepasang lesung pipit yang tampak mempermanis senyumnya.
"Coba deh tarik nafas perlahan, cium aroma yang dibawa hujan saat ini. Menenangkan sekali rasanya" gadis itu kembali berujar ke arahku, dengan senyum yang kembali ia ukir diwajahnya. 
"Siapa yang suka aroma hujan di kota? Yang ada, yang tercium cuma bau selokan dan bau genangan-genangan kotor. Ah..ditambah disini, bau keringat" ujarku seraya menunjuk ke arah kerumunan orang-orang di halte ini.
Gadis itu kini tertawa cukup keras. Entah apa yang lucu dari ucapan yang kukatakan dengan nada sinis padanya tadi.
"Kamu bikin saya jadi semakin kagum dengan hujan" 
Aku mengerut bingung, "kenapa?" 
"Iya...hujan itu padahal berkah langit yang diberikan khusus istimewa oleh Sang Pencipta untuk bumi. Tapi sedari dia turun, bukannya disambut ia malah dicaci maki oleh makhluk bumi. Bukankah hujan sangat tanpa pamrih?" 
Aku terdiam. Benar juga ucapan gadis ini. 
"Bayangkan kalau langit enggan berbagi hujan pada bumi. Manusia lagi dan lagi pasti mengumpat. Bukankah kita ini sangat egois? Maunya enak terus, sampai terkadang lupa cara berterima kasih dan bersyukur"
"Seandainya hujan turun diwaktu yang tepat juga pasti tidak akan membuat manusia mengumpat kesal kepadanya" 
"Tuh kan? Manusia itu egois, maunya enak terus. Selalu mencari pembenaran. Padahal Sang Pencipta sudah sedemikian adilnya. Hujan turun tanpa membuat manusia dirugikan loh. Ingat, yang diurusi Sang Pencipta itu bukan hanya manusia"
Kini aku benar-benar terdiam seutuhnya. Gadis itu masih memandangiku sembari tersenyum. 
"Kamu harus belajar lebih sabar lagi. Jangan apa-apa dibuat emosi" 
Tak terasa, hujan perlahan mereda. "Assalamualaikum" Gadis itu tampak berjalan perlahan meninggalkanku. Percakapan singkat dengannya yang bahkan tak kutahu namanya itu begitu membekas. Tanpa sadar, hatiku berbisik hendak mengenalnya lebih lagi. Gadis berkerudung yang terlibat obrolan singkat kala aku meneduh sore itu, aku ingin mengetahui namanya.

Magelang, 25 Juni 2020

Comments

Popular Posts