Sepotong Kue Cokelat
Diawal perkenalan kita, kamu memberiku sepotong kue cokelat yang sudah separuh tergigit, namun terasa sangat nikmat. Waktu itu, yang kutahu dekat dengan seorang ketua OSIS terkenal sepertimu itu adalah merupakan sesuatu yang baru bagiku yang penyendiri ini. Entah dari mana awalnya, namun kamu sukses menyita perhatianku. Bintang, bahkan hanya menyebut namamu saja pipi ini dapat berubah merah seketika.
"Jangan menangis" kalimat itu menjadi awal kamu menyapaku. Kamu tersenyum dengan tangan terulur hendak berbagi sepotong kue cokelat yang sudah kamu gigit setengah. Matamu seolah mengisyaratkanku bahwa kue coklat itu masih terasa seperti kue cokelat meski sudah tergigit setengah.
Kuulurkan tanganku dengan malu-malu menerima kue cokelat tak berbentuk sempurna itu. "Aku janji, lain kali akan kuberi yang utuh" ucapmu kala itu. Dia berkata janji, apa itu artinya dia akan kembali menemuiku. Dalam hati, aku sungguh sangat berharap.
Sepanjang pelajaran, untuk pertama kalinya aku kehilangan fokusku. Pikiranku teralihkan pada pertemuanku dengan Bintang tadi. Kurasa aku benar-benar telah menyukai si pemberi kue cokelat itu. Setiap istirahat tiba, kucuri pandang mengintip ke jendela ruang OSIS. Kakiku terus kuajak mondar-mandir di depan ruang OSIS, berharap kamu melihatku.
Tak terasa, aku telah diam-diam menyukai ketua OSIS di sekolahku itu hampir satu tahun lamanya. Kini Bintang sudah tidak lagi menjadi ketua OSIS. Aku pun telah berhenti mencuri-curi pandang ke ruang OSIS. Ia kini sudah berada di kelas tiga dan sibuk dengan persiapan untuk ujian nasional. Bahkan lebih sibuk dari saat dia menjadi ketua OSIS. Aku masih terus menunggu janji yang dia ucapkan untuk memberiku kue cokelat yang utuh, dan aku masih begitu menyukainya.
Hingga akhirnya, hari kelulusan Bintang pun tiba. Perlahan rasa sukaku berubah menjadi kesedihan. Apa ini yang namanya cinta tak berbalas, ratapku dalam hati. Ingatanku tentang kue cokelat perlahan hilang bersamaan dengan rasa sukaku pada si pemberinya yang seolah telah tertelan bumi. Kini aku telah naik ke kelas tiga. Aku pun mulai fokus pada ujian nasional.
Setahun, dua tahun, hingga sembilan tahun berlalu, aku kembali bertemu dengan dia, si pemberi kue cokelat yang sudah lama aku lupakan. Bintang si kue cokelat, Bintang cinta pertamaku. Dia datang tersenyum sembari melambai ke arahku, "apa kabar Ra?" Tanyanya dengan nada santai seraya tersenyum padaku. "Baik" kujawab dengan singkat dan dengan nada yang sangat canggung. Tangannya terulur membawakan sesuatu yang kutunggu sembilan tahun lamanya. Sepotong kue cokelat, utuh tanpa gigitan.
"Siapa Ra?" Aksa datang menghampiriku seraya merangkul pundaku. "Bintang mas" jawabku. Aksa langsung paham begitu mendengar jawabanku. Aksa lalu menyalami Bintang. Kami pun hening dalam pikiran masing-masing.
"Maaf Ra, aku terlambat" Bintang, tahukah kamu apa arti terlambat itu untukku. Kamu memang terlambat bahkan sangat terlambat Bintang. "Maaf Bintang" kini aku benar-benar telah melepasmu. Dulu aku memang begitu penasaran akan banyak hal tentangmu, dan terus menantikan janji kue cokelatmu. Tapi itu dulu, sebelum Aksa datang.
Bintang tersenyun, "akhirnya kini aku sudah tidak memiliki janji lagi kan?"
Melihat senyumnya, aku ikut tersenyum "iya Bintang. Terima kasih untuk kue cokelatnya. Aku pamit"
Bintang dan aku yang bersama Aksa ini lalu berlalu pergi ke arah yang berlawanan.
Magelang, 21 Juni 2020
Comments
Post a Comment