Dongeng
Aku menyukainya sedari dulu. Tapi malangnya, aku takut menggenggamnya. Bisaku hanya berandai-andai mengukir kisah dengannya. Setiap berani menghampiriku, ragu dengan cepat mengusirnya pergi. Hingga akhirnya aku sadar tak ada harapan lagi, kala ia mengatakan "aku dan kamu bisa menjadi pasangan, itu pasti hanya dongeng Ka"
Ya, anganku baginya hanyalah sebuah dongeng. Mustahil adanya dan hanya khayalan semata.
Hari ini dia menikah, bersama pangerannya. Dini ku, kini seutuhnya milik orang lain. Berbalut gaun putih dan mahkota indah dikepalanya, ia melambai ke arahku dengan senyum paling bahagia. Perih rasanya melihat bagaimana tangan yang selalu membuatku harus mengumpulkan keberanian untuk menggenggamnya, kini seutuhnya terikat di tangan lainnya. Membuatku tak lagi memiliki hak.
"Kama, kalau aku menikah kelak. Kamu harus jadi orang pertama yang memberiku ucapan selamat"
Dini, inginku bukan menjadi orang pertama yang memberimu selamat. Inginku lebih besar dari itu, menjadi orang pertama yang memberimu dunia baru. Inginku, bersama denganmu bukanlah dongeng semata.
Masih bersama rasa ku untuk Dini ini, 3 tahun pernikahannya pun Dini melahirkan makhluk kecil perempuan yang begitu cantik. Tangis bercampur senyum bahagia terukir di wajahnya. Dini ku kini menjadi seorang ibu. Ia kini menjadi perempuan seutuhnya. Aku kembali merasa perih. Kala melihat Dini memeluk sayang pangerannya. Ketiganya saling berpelukan dengan aku yang hanya bisa tersenyum palsu menutupi perih ini.
7 tahun berlalu, dongeng ini nyatanya tak kunjung membuatku tersadar. Aku masih menyimpan rasa untuk Dini. Dan ia, semakin bahagia meninggalkan ku yang masih terjebak dengan dongeng yang mustahil menjadi nyata ini.
Magelang, 29 Juli 2020
Comments
Post a Comment