Perpisahan Senja
"Indonesia?" Tanyaku lagi. Ia kini menatapku lebih lama, lalu mengangguk.
"Raka" ucapku lagi seraya tersenyum padanya. Ia hanya memandangku.
"Saya juga orang Indonesia" jelasku, paham akan tatapannya.
Lagi-lagi ia mengabaikanku. Kurogoh kantong saku celanaku mengeluarkan permen coklat kesukaanku. Kuulurkan permen coklat itu padanya. "Sebentar lagi senja, permen coklat ini cocok dinikmati saat senja" ucapku terus berusaha membuatnya meresponku. Dengan ragu-ragu ia ambil permen coklat itu, kemudian dibuka bungkusnya dan ia masukkan dalam mulutnya. Tanpa terduga, ia tiba-tiba tersenyum padaku. Manis sekali, aku seperti terhipnotis olehnya."Kaila" ucapnya. Aah..akhirnya aku dapat mendengar suaranya.
"Kala itu Jerman terlihat seperti neraka, banyak rakyat tak berdosa mati akibat keserakahan para penguasa peradaban" ucap Kaila lagi.
Kaila yang kini bersamaku terlihat sangat berbeda dengan Kaila yang kulihat diawal pertemuan itu. Kini, ia terlihat lebih sering tersenyum. Aku tak pernah berani bertanya apa yang membuatnya sedih kala itu.Ia kini menatap perahu yang berlalu lalang di sungai spree itu. "Mau naik?" Tanyaku karena ia terlihat terus menatapnya dengan tertarik.
"Ingin, tapi jangan. Nanti mereka akan menemukanku" ucapnya. Siapa yang dimaksud mereka oleh Kaila ini, apa orang yang membuatnya sedih kala itu.
"Kemarin aku lari, karena mereka menemukanku" lagi-lagi Kaila mengatakan mereka.
Seandainya Kaila mau mengatakan siapa mereka yang selalu mengejarnya itu. Aku mungkin dapat membantunya. "Siapa Kai? Jika kau beritahu aku, mungkin aku dapat membantumu" ucapku lirih.
Kaila tersenyum mendengar ucapanku.
"Jangan, kamu orang baik. Jangan sampai terlibat dengan mereka. Aku hanya perlu bersembunyi beberapa saat, lalu aku akan kembali pada mereka." Kaila genggam tanganku seraya tersenyum, namun terlihat sedih. Kami berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Kaila masih menggenggam tanganku. Kami menikmati senja kala itu yang terlihat begitu indah dari oberbaum.
Hari ini adalah hari terakhirku di Jerman. Aku hendak memberitahukan hal itu pada Kaila. Namun hingga senja, Kaila tak kunjung datang. Apa ini sudah saatnya ia kembali pada mereka yang selalu Kaila sebut itu, pikirku.Bahkan aku belum mengucapkan salam perpisahan dengannya. Kuharap kau baik-baik saja Kaila. Ini akan menjadi senja perpisahan kita.
5 tahun setelah kisahku dan Kaila berlalu. Akibat benang yang kusimpul mati itu, aku masih terus memikirkan Kaila. Bahkan saat aku sudah tak sendiri.
Kaila pernah mengirimiku surat 3 tahun lalu, saat pernikahanku.
Hai Ka, kuharap kamu masih mengingatku. Maaf karena aku pergi tanpa menemuimu terlebih dahulu. Meski begitu, percayalah aku selalu merindukan dan mengingatmu. Kala itu, aku tau kamu terus penasaran dan ingin bertanya padaku siapa mereka yang selalu aku maksud selama ini. Kini lewat surat ini, aku akan memberitahumu
Aku membaca surat Kaila perlahan.
Kamu tau kenapa aku bisa sampai ke Jerman. Jerman bagiku adalah negara yang mengerikan. Sama mengerikannya pada saat Hitler memimpin. Jerman telah menghancurkan kehidupanku. Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil. Aku lalu tinggal di sebuah panti asuhan. Lalu aku diadopsi oleh keluarga kaya. Hidupku saat itu bahagia, namun ternyata itu hanyalah sesaat. Semakin aku dewasa, aku mulai merasa takut jika aku dekat dengan ayah tiriku. Ia mulai bersikap kasar padaku. Berjalannya tahun, keluarga ini mulai semakin kacau. Mereka jatuh miskin dan tanpa aku ketahui, mereka menjualku pada seseorang di Jerman untuk mendapatkan uang.
Aku tak sanggup melanjutkan untuk membaca surat itu.
Kamu pasti tau istilah prostitusi. Begitulah akhir takdirku. Saat aku bertemu denganmu, aku merasa kamu menghormatiku sebagai seorang perempuan. Kehormatan yang tidak pernah aku dapatkan selama ini. Menurutku kamu laki-laki baik dan aku ingin mengenalmu lebih dekat. Aku lalu memutuskan untuk terus menemuimu dan menghindar sesaat dari mereka, orang-orang yang mempekerjakanku. Aku minta maaf karena tak langsung bercerita denganmu saat kita bertemu. Aku hanya tak ingin kamu menjauhiku setelah kamu tau keadaanku sebenarnya
Bagaimana mungkin aku akan menjauhimu Kai, ucapku dalam hati. Jika aku tau lebih awal ingin rasanya aku memelukmu, menguatkannya.
Aku tau, aku mungkin tak pantas mengatakan ini. Kamu laki-laki baik, aku tak mempunyai hak untuk mengatakannya. Tapi aku akan jujur padamu, aku menyukaimu Raka. Bagiku, kamu satu-satunya laki-laki yang menganggapku perempuan. Kamu memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku hanya ingin kamu mengetahui perasaanku. Kamu tak perlu memperdulikannya. Aku harap kamu bahagia selalu Raka. Aku pun menyukaimu Kaila.
"Mas, yuk.. anak-anak udah nunggu" suara Tia istriku membuyarkan lamunanku.
Makin uwuwu
ReplyDelete