Kisah Putri Negeri Madani
Di sebuah Negeri Madani, hiduplah seorang Putri yang memiliki pesona layaknya malaikat dengan kulit seputih kapas dan senyum semanis madu. Namun sang putri cantik itu harus kehilangan senyuman setelah musibah kutukan itu menimpanya. Ia tidak boleh tersenyum, karena itu akan membawa mala petaka bagi rakyat Negeri Madani. Sejak saat itu, Sang Putri menjadi gadis pendiam yang takut keluar dan terus murung mengurung diri di dalam istana.
Suatu hari, Sang Putri memamerkan senyuman manisnya di pesta yang diadakan rakyat Negeri Madani. Ia tersenyum sembari melambaikan tangan dengan anggunnya diiringi kereta kuda yang dihias begitu megahnya.
Namun tiba-tiba pesta megah itu, berubah menjadi musibah seketika saat hujan disertai angin dan petir datang dengan begitu brutal, memporak-porandakan semua yang dilewatinya. Pesta meriah itu berubah menjadi sangat mengerikan. Teriakan demi teriakan terdengar begitu keras dari rakyat Negeri Madani yang ketakutan.
"Semua ini terjadi karena dia tersenyum" satu persatu rakyat Negeri Madani berceletuk memaki Sang Putri.
Betapa sedihnya hati Sang Putri mendengar makian-makian itu. Ia pun berlari menjauhi teriakan-teriakan itu. Sang Putri terus berlari dan berlari tanpa mengetahui kalau dirinya sudah memasuki sebuah hutan terlarang.
Ia terus menangis tanpa henti hingga suaranya perlahan menghilang karena dipakai untuk menangis.
Karena mulai merasa lelah, Sang Putri terduduk di sebuah pohon rimbun yang tak sengaja ditemuinya. Ia terduduk dengan keadaan gaun yang sudah kotor dan rambut kusut berantakan. Namun meski sudah tak menangis lagi, garis bibir Sang Putri masih tertekuk ke bawah. Ia masih merasa sedih.
Hingga tanpa sepengetahuannya, seorang anak laki-laki yang membawa burung merpati di lengannya, datang menghampiri dirinya.
Ia terduduk tepat di hadapan Sang Putri, dan dengan beraninya menarik garis bibir Sang Putri membentuk lengkungan senyum.
"Apa kau juga mendapatkan kutukan menyedihkan?" tanyanya pada Sang Putri.
Sang Putri menatap anak laki-laki itu seraya mengangguk pelan.
"Aku dilarang melakukan kesukaanku, karena itu akan menjadi mala petaka untuk rakyat di negeriku"
"Memang kamu suka apa?" tanya anak laki-laki itu lagi dengan wajah penasaran.
"Ini..aku menyukai ini" Sang Putri menarik ujung bibirnya membentuk senyuman, namun seketika sadar bahwa ia tak boleh melakukannya dan langsung kembali dengan raut wajah sedih.
Sang anak laki-laki itu tersenyum, "tenang saja, di sini kamu bisa melakukan apapun yang tidak bisa kamu lakukan di negerimu"
Sang Putri menatap ragu ke anak laki-laki itu, "benarkah?"
Sang anak laki-laki mengangguk penuh yakin.
Sang Putri kemudian mempercayai ucapan anak laki-laki itu dan perlahan kembali menarik garis bibirnya membentuk senyuman. Dan benar saja, Sang Putri tak melihat adanya tanda-tanda mala petaka datang menghampirinya.
"Kenapa di sini berbeda dengan negeriku?" tanya Sang Putri penuh rasa penasaran.
"Negerimu adalah negeri terkutuk. Semesta sedang menghukum negerimu karena ketamakan, keserakahan, dan kejahatan yang terus-menerus dilakukan rakyat negerimu"
Sang Putri mengerutkan keningnya bingung, "bukankah hutan ini yang terkutuk, itulah mengapa hutan ini terlarang untuk rakyat negeriku"
Anak laki-laki itu tersenyum, "hutan ini bukanlah sebuah hutan terlarang, hutan ini terlindungi kekuatan Peri Bumi. Itulah mengapa, orang jahat yang tidak memiliki ketulusan hati akan dihantui rasa takut saat memasukinya. Hanya orang-orang yang memiliki hati layaknya permata saja yang akan merasa nyaman saat memasuki hutan ini. Salah satunya kamu Putri. Kamu tidak terkutuk, orang-orang yang memakimu itulah yang terkutuk dan tidak pantas melihat senyuman manismu itu"
Sang putri kembali tersenyum, hatinya lega sekali saat ini. Tak ada lagi kesedihan yang menyelimutinya. Ia berdiri dari duduknya, "maka sekarang tugasku adalah membuat negeriku kembali seindah namanya. Negeri Madani aku pastikan akan kembali menjadi negeri kesayangan semesta. Aku akan kembali bisa tersenyum kalau aku bisa menghilangkan ketamakan, keserakahan, dan kejahatan di negeriku"
Sang anak laki-laki tersenyum ke arah Sang Putri. "Aku akan menantikannya" ujarnya.
"Namaku Mada, senang bertemu denganmu Putri"
Sang anak laki-laki itu berlalu pergi meninggalkan Sang Putri yang juga berlalu pergi kembali ke negerinya.
Magelang, 07 Juli 2020
Comments
Post a Comment