Bapak

Masih tercium aroma balsem di tubuhnya kala aku terbangun pagi itu dipelukannya. Garis-garis merah terlukis di sekujur punggungnya. "Mau aku pijit?" Begitu kataku kala melihatnya ikut terbangun.
Ia hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Dengan raut wajah menahan kantuk yang masih menyelimutinya, ia berusaha terbangun dan berlalu meninggalkan kasur.
Disuruhnya aku mandi dan bersiap untuk bersekolah. Setelah selesai bersiap dengan seragam putih abu, sepiring nasi goreng lengkap dengan telur setengah matang kesukaanku terhidang di meja. Ia terduduk tepat di depanku, kembali tersenyum melihatku yang dengan lahapnya memakan nasi goreng buatannya. "Makasih ya, nasi gorengnya enak banget" ujarku seraya memberinya kecupan di pipinya.
Ia kembali tersenyum. Tangannya terulur memberiku uang 10 ribu. Ia berdiri menuju halaman depan. Tangannya sibuk mengelap membersihkan becaknya, bersiap mengantarku. "Gak usah diantar, aku jalan aja. Istirahat lagi aja" ujarku melihat bagaimana garis hitam nampak di kedua mata senjanya. Ia menggeleng menolak permintaanku. Aku akhirnya hanya bisa tersenyum seraya naik ke becak yang sudah siap membawaku ke sekolah ini.
Aku tak hentinya terus bersenandung ria sepanjang perjalanan, hingga tanpa sadar sudah sampai di depan gerbang sekolahku.
"Nanti pulangnya jangan sore-sore, biar gak kecapekan" ujarku seraya mengecup tangannya untuk pamit. 
Tepat pukul 3 sore, terlihat dia sudah menungguku di depan gerbang. Peluh keringat tampak membasahi kaus lusuhnya. Ditengah wajah lelahnya, ia tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arahku. Aku langsung berlari menghampirinya. Tanpa disangka, ia mengulurkan sebuah plastik hitam lengkap dengan sesuatu yang dibungkus kertas koran terisi di dalamnya. Tangannya berucap, "selamat ulang tahun putri kesayangan bapak."

Magelang, 30 Agustus 2020

Comments

Popular Posts