Sewindu
Bisaku hanya membawakanmu martabak 15 ribu an yang dilapisi keju dan cokelat seadanya setiap kusinggahi rumah istanamu. Bisaku hanya mengajakmu menonton pertunjukan layar tancap di alun-alun yang hanya cukup membayar 5 ribu rupiah saja untuk satu tiketnya. Tapi aku tak ragu untul bersaing dengan para laki-laki yang berhamburan berlomba memenangkan hatimu itu. Ya, sebegitu jatuh cintanya aku denganmu. Dan sebegitu tidak tahu dirinya aku yang menyukai seorang putri berkasta tinggi sepertimu.
"Mas Badrul, Roro mau dibelikan jagung bakar itu" kamu menunjuk penuh antusias ke arah penjual jagung bakar yang tampak sudah berusia senja itu, dan mengalihkan pandangan dari tontonan di layar tancap.
"Kapan Roro mengijinkan Mas Badrul melamar Roro?" tanyaku usai membelikan jagung bakar seharga 3 ribu rupiah itu.
"Sampai bapak menyukai Mas Badrul. Roro akan langsung menjawab iya, kalau bapak juga iya. Mas Badrul tau kan, bapak adalah cinta pertama dan cinta sejatinya Roro. Restunya untuk memberikan Roro pada calon suami Roro nanti adalah sesuatu yang penting dan ndak bisa diganggu gugat." Dengan begitu tenangnya dan senyuman yang menghiasi wajah ayunya, Roro menjawab pertanyaanku.
Merasa lebih mapan di tahun ke-3 aku mendekati Roro, aku pun memutuskan menghadap ke cinta pertama dan sejatinya Roro. Keringat dingin menyelimuti kedua tanganku yang saling bertautan. Belum apa-apa kukatakan maksud kedatanganku, Bapaknya Roro langsung menggeleng menolakku. "Perbaiki dulu niat dan sikapmu" begitu katanya padaku. Roro menatapku dan malah tersenyum hangat melihatku yang gagal di percobaan pertama ini.
Aku kembali menjalani hubungan tanpa statusku ini dengan Roro seperti biasanya. Mimpiku meminangya di tahun ini, gugur sudah.
Menginjak tahun ke-5, aku kembali memberanikan diri menghadap ke cinta pertama dan sejatinya Roro. Kini aku tampil lebih percaya diri, dengan setelan jas yang jauh dari kata lusuh seperti tahun sebelumnya. Motor antikku juga sudah berubah menjadi mobil keluaran terbaru. Aku lega saat bapaknya Roro mengijinkanku untuk terlebih dahulu mengucapkan maksud kedatanganku. Setidaknya aku tidak ditolak mentah-mentah. "Kamu mau memuliakan anakku dengan harta-harta mu itu?" Terdiam aku tak mampu menemukan jawaban yang kiranya akan disukai oleh bapaknya Roro.
"Kalau itu bisa menjadi sumber kebahagiaan Roro, akan saya pastikan Roro tidak hidup susah__"
"Kembali lagi saat sudah yakin dengan jawabanmu" lagi-lagi ia menolakku tanpa mengijinkanku menyelesaikan jawabanku. Dan lagi-lagi Roro tersenyum menatapku tanpa rasa prihatin atas kegagalanku.
"Tahu kenapa Roro mau menunggu Mas Badrul ditengah banyaknya laki-laki yang mengajak Roro menikah?"
Aku menggeleng pelan,
"Karena Roro sudah mencintai Mas Badrul. Jangan lelah untuk memenangkan hati bapak ya mas" Roro kembali tersenyum begitu mengucapkan kalimat ungkapan cintanya itu. Tahukah dia betapa kalimat itu membawa efek menenangkan padaku yang rasanya sudah hampir menyerah untuk memenangkannya ini.
Sewindu aku menjalin hubungan tak berstatus ini dengan Roro. Setelah diselimuti ragu yang tak kunjung hilang, diriku akhirnya yakin untuk kembali memenangkan cinta pertama Roro. Mencoba mendapatkan restunya di penantian sewinduku ini. Kuharap semesta turut mengamini segala doa yang terucap dariku.
"Saya memohon ijin bapak untuk meminang Roro di kedatangan saya yang entah sudah keberapa kalinya ini. Di tepat sewindu sudah saya mengenal Roro. Saya ingin sedikit bersombong diri, apa bapak mengijinkan saya mengatakannya?" Diselimuti rasa tegang dan gugup yang bercampur aduk, aku berusaha tetap terlihat tenang.
Keberanian dan kepercayaan diriku semakin bertambah kala bapaknya Roro mengangguk menyetujui permintaanku.
"Roro sudah mencintai saya, dan begitupun dengan saya. Bukankah itu sudah cukup untuk meyakinkan bapak agar memberikan restu pada kami. Cinta membuat bapak dan Roro menjadi satu. Cinta membuat bapak dan Roro menjadi saling melindungi. Cinta membuat bapak dan Roro merasa memiliki satu sama lain. Dan cinta membuat bapak dan Roro bahagia. Saya juga ingin agar cinta membuat bapak mempercayai saya untuk berbagi suka duka bersama Roro. Mengukir cerita kami berdua dan memulai petualangan-petualangan menyenangkan bersama-sama"
Tak ada tanggapan untuk ucapanku itu. Kegugupan kembali menyelimuti diriku. Apa aku salah berucap lagi kali ini, pikirku.
Hingga beberapa saat kemudian, "baik, saya ikhlas. Kamu memenangkan restu saya"
Senyuman terlebar merekah dari wajahku. Segala kegugupan dan keringat dingin di sekujur tubuhku seolah menghilang begitu saja. Segala perjuanganku akhirnya merdeka di waktu ke sewindu. Dari balik pintu, terlihat Roro tersenyum ke arahku. Turut berbahagia untuk keberhasilan ini. Ia menghampiriku, "terima kasih mas, sudah berjuang untuk Roro"
Magelang, 22 Agustus 2020
Comments
Post a Comment