Menjelang Pejam nya Biru

Tak sedetikpun kulepas tanganmu. Senyuman berusaha terus merekah di wajahmu. Mulutmu tak henti-hentinya bercerita kisah-kisah seru tentang kita. Akupun akhirnya mau tak mau harus berusaha mengubur dalam-dalam sedihku. Katamu, aku harus bahagia selalu. Katamu, aku harus tersenyum selalu. Melihatmu seperti ini, rasanya malaikat pun takkan tega menyuruhmu pergi. Melihatmu yang berusaha tetap terjaga dengan mata lelahmu yang entah bagaimana caranya tampak penuh binar bahagia itu membuatku rasanya semakin tak rela kala kamu terpejam nanti. "Jangan lupa makan" begitu katamu yang hanya bisa kubalas dengan anggukan.
"Aku masih di sini, jangan menangis" begitu katamu lagi sembari mengusap bulir air mata yang mulai jatuh dari mataku. "Jangan tidur terlalu malam" aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk. 
"Aku selalu menunggumu di Sana" tangisku kini benar-benar runtuh tak terkendali. Kamu masih berusaha tersenyum dan mengusap punggung tanganku menenangkan. "Aku akan rindu kamu" begitu kataku dengan terbata-bata. Kamu masih tersenyum, hingga akhirnya kata itu terucap dari mulutmu. "Aku ngantuk, aku boleh tidur sekarang ya?" ujarmu meminta ijinku. Dengan segala ikhlas yang kumiliki, aku akhirnya mengangguk. Kamu kembali tersenyum, "selamat malam Galih" dan mata indahmu terpejam. "Selamat Malam Biru" ucapku meninggalkan kecup hangat dikeningmu.

Magelang, 01 September 2020

Comments

Popular Posts