Perempuan Berbau Seperti Hujan
Sore itu, matahari hilang dibalik awan abu dengan gemuruh petir yang mulai mereda. Kepala anak bernama Banyu itu mendongak, membiarkan air hujan berjatuhan menimpa wajah lusuhnya. Membantunya membersihkan tebalnya debu polusi yang hinggap kala ia mengamen tadi. Rasa sejuk seketika terasa di sekujur tubuhnya. Rasa letih seolah turut melebur bersama air hujan yang mengalir lewat di tubuhnya. Usia Banyu baru 9 tahun kala ibunya harus pergi selama-lamanya. Usia Banyu baru 9 tahun kala sang ayah turut memaksa pergi menyusul ibunya. Banyu kecil menjadi kebal karena perpisahan bertubi-tubi yang datang dihidupnya. Tapi kali ini, Banyu yang kuat akhirnya menangis juga. Ia merasa lelah dengan hidupnya. Ia merasa tak lagi kuat menghadapi bumi yang jahat padanya. Ditemani hujan, Banyu lampiaskan segala kesal dan sedih yang dirasanya. Ia berteriak, memaki, dan menangis. Banyu terduduk lunglai, kelelahan usai melampiaskan segalanya. Tak ada satupun yang peduli dengan Banyu yang malang ini. Yang ada hanya suara cipratan genangan air hujan dari kaki kaki mereka yang berlalu lalang dan umpatan dari orang-orang yang tak sabar dengan kemacetan. Setelah lebih tenang, Banyu yang sudah basah kuyup itupun memutuskan untuk segera pulang. Berusaha dibuangnya sisa-sisa kesedihan yang masih enggan hilang. Ditentengnya ukulele kayu yang setia menemaninya mengamen selama ini. Namun setelah berhasil terbangun, Banyu merasa sebuah tangan memegang erat dirinya. Ia pun segera mengarahkan pandangan ke arah tangan itu. Seorang perempuan dewasa, tersenyum ke arahnya. Cantik sekali, begitulah kesan pertama yang muncul dibenak Banyu saat itu. "Ada apa?" tanya Banyu ragu.
"Yang kuat ya, kamu pasti akan jadi orang hebat" begitu katanya.
Bress...hujan deras tiba-tiba kembali mengguyur. Orang-orang termasuk Banyu pun sibuk berlarian mencari peneduh. Seketika Banyu lupa dengan perempuan yang tadi sempat menggenggam tangannya. Ditengoknya kanan kiri, depan belakang dari tempatnya berteduh saat ini. Tapi nihil. Perempuan cantik itu tidak nampak dimanapun. Banyu tersenyum mengingat ucapan singkat perempuan itu. Disadarinya, perempuan berbau seperti hujan itu menguatkannya. Mungkinkah dia peri hujan utusan-Nya. "Ah, aku harus menemuinya kelak"
Magelang, 01 September 2020
Comments
Post a Comment