Kisah di Hari Sabtu dan Minggu

Malam pukul 10 di Hari Sabtu Malam Minggu itu, aku harus bersabar untuk musibah yang menimpaku. Motor bututku tiba-tiba saja mendadak mati tak berdaya. Aku pun terpaksa harus menepi di sebuah halte. Ditemani rintik gerimis dan langit malam yang tampak begitu suram karena mendung, aku memilih duduk di salah satu kursi halte. Tanganku tak henti-hentinya terus mengusap satu sama lain untuk mengusir hawa dingin yang terus bergelayutan di sekujur tubuhku. Jaket tipis yang kukenakan pun seperti tak berarti apa-apa untuk melawan hawa dingin akibat hujan yang kini bahkan masih menyisakan rintik gerimis ini. Ditengah aku yang masih disibukkan untuk menghangatkan diri, mataku menangkap sosok yang entah bagaimana caranya langsung menarik perhatianku. Dia baru saja datang dan kini terduduk tepat di sampingku. Mendadak aku merasakan hawa hangat menyelimuti sekujur tubuhku. Kuberanikan diri untuk sekedar mencuri pandang dengannya. Dari samping dengan jarak sedekat ini, aku dapat melihat bulu matanya yang lentik dan terlihat sangat cantik. Kubayangkan bagaimana bibir tipis itu akan sangat manis kala sebuah senyuman dan tawa membingkainya. Tanpa sadar aku tersenyum. Aku ingin berkenalan dengannya. Kelak.
Lewat pertemuan tak sengaja itu, aku mengenalmu. Sosok yang ternyata hanya dapat kujumpai di Sabtu dan Minggu. Tepat pukul 10 malam, kamu pasti sudah terduduk manis di kursi halte. Senyummu terlihat begitu lebar tergambar, tapi rasanya begitu tak bernyawa. Tentu saja aku penasaran apa yang membuatmu seperti itu. Keningku kerap mengerut tak suka, kala melihatmu di gandeng mereka, kemudian dirangkul, sebelum akhirnya pergi bersama entah kemana. Sebulan sudah aku terus mencuri pandang padamu, si gadis Sabtu Minggu. Percayalah, inginku lebih dari hanya sekedar mencuri pandang padamu dari kejauhan. Inginku menghampirimu, lalu membayangkan kau tersenyum manis padaku, dan aku mengajakmu berkenalan. Namun lagi dan lagi, kesempatan itu tak kudapatkan malam ini. Kamu sudah terlanjur pergi bersama mobil laki-laki yang tampak berbeda lagi dari yang membawamu pergi kemarin malam. Kisah hari Sabtu dan Minggu ku kali ini lagi dan lagi hanya berakhir dengan aku yang memandangimu dari kejauhan. 
Hari Sabtu di minggu selanjutnya, aku kembali bergegas menuju tempat biasa aku menjumpaimu. Dan seperti pemandangan sebelum-sebelumnya, kamu sudah terduduk manis di sana. Berpoleskan lipstick merah dengan gaun berwarna hitam yang tampak membuatmu tak nyaman. 
"Hai" dan entah mendapat keberanian dari mana, aku kini sudah berdiri tepat di depannya. 
Kamu tak langsung membalas sapaanku dan malah mengerutkan kening. "Wajahmu tak cocok untuk jadi pria yang suka jajan" ujarnya padaku.
Aku terdiam sejenak, bingung dengan ucapannya. 
"Lihat, kau bahkan tak paham dengan maksud ucapanku" dia kembali berucap seraya tertawa ringan. 
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu" akhirnya aku bisa mengucapkan keinginanku dengan berusaha meredam kegugupan ini.
"Kalau diizinkan" sambungku lagi.
Kamu kembali menatapku dengan tatapan heran. "Ah, rasanya aku sudah lupa kapan terakhir kali orang meminta izin padaku" 
Aku kembali terdiam. Bukan karena bingung dengan ucapannya, lebih pada merasa prihatin dan penasaran. Prihatin karena ucapannya, dan penasaran karena ucapannya. 
"Kamu tidak boleh berkenalan denganku. Aku perempuan nakal. Bertemanlah dengan yang baik" ujarmu sembari tersenyum padaku.
"Kenapa kamu nakal? Aku tidak paham di mana nakalnya?"
"Pekerjaanku itu nakal"
"Tapi kamunya tidak kan?" 
Kamu terdiam menatapku, "dan baru kali ini orang memandangku tidak nakal" raut wajahmu seolah menggambarkan kesedihan dan keprihatinan.
"Kalau aku sudah menjadi baik, kamu boleh kembali menemuiku dan mengajakku berkenalan" 
Ia kemudian berlalu pergi meninggalkanku dalam kebingungan. Kukira kisah Sabtu Minggu ku masih hanya akan tentang aku yang mencuri pandang denganmu. Benakku terus berkata, "baik, kutunggu kamu menjadi baik dan mau berkenalan denganku."

Magelang, 11 Oktober 2020

Comments

Popular Posts