Kopi dan Teh
Kamu terus tertunduk enggan menatapku. Pikiranmu pasti sudah kemana-mana sedari tadi. Segelas teh hangat yang kupesankan pun tak sedikitpun diminum olehmu.
"Sastra pasti tahu, apa akhir dari kisah kopi dan teh yang Mas Sakha ceritakan kemarin sore"
Kamu bahkan tak menanggapi ucapanku. Terlihat bagaimana bibirmu mulai bergetar menahan tangis.
"Sastra..." Aku mendekat, berusaha mendapatkan perhatianmu.
Isakan perlahan terdengar dari mulutmu.
"Sastra tahu kan, Mas Shaka gak bisa melihat Sastra menangis seperti ini"
Kamu masih terdiam.
"Rasanya akan menjadi racun" dengan suara lirih, kamu akhirnya mengangkat kepala menatapku.
Aku tersenyum seraya mengangguk mengiyakan ucapanmu.
"Gula mungkin bisa membuatnya menjadi manis, tapi mustahil melezatkan rasanya" kuusap pelan puncak kepalamu dengan penuh kelembutan.
"Memaksakan tentang kita ini, sama seperti kisah Kopi dan teh. Sastra tahu itu kan?"
Kamu kembali tertunduk tak menanggapi ucapanku.
"Selain restu orang tua, restu-Nya juga sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat"
Kamu masih terdiam, bibirmu semakin bergetar berusaha menahan tangis. Namun nyatanya, isakan demi isakan seperti lolos dengan mudahnya dari mulutmu.
"Kita sudahi semuanya ya. Mas Sakha doakan Sastra mendapat pasangan seiman yang lebih baik dari Mas Sakha."
Tangismu akhirnya pecah. Isakan tangismu semakin terdengar tak beraturan, menandakan betapa sesak itu mencekik dirimu. Kuusap lembut kepalamu sebelum akhirnya berlalu pergi, meninggalkanmu yang masih terisak.
Magelang, 11 Oktober 2020
Comments
Post a Comment