Untuk Mentari
Solo, 1999
Gadis anggun berkacamata itu menarik perhatianku. Mataku rasanya enggan beralih dari menatapnya. Rambut kuncir kudanya menari-nari bebas terkena angin. Gaun berenda dengan warna merah jambu pudar yang dikenakannya semakin mempercantik penampilannya. Lesung pipit yang menghiasi senyumannya itu benar-benar membuatku gemas untuk melayangkan cubitan di kedua pipinya.
"Heh Gus, kedep" suara Suryo temanku mengganggu fokusku seketika.
"Sopo kae?" tanyaku dengan basa Jawa yang berarti siapa dia. Kutujukan pada gadis berkacamata itu.
"Mentari, anaknya pak kades" ujar Suryo.
“Ngopo to takon-takon?” tanya Suryo lagi dengan nada penasaran
“Ayu”
Hari-hariku usai sekolah kini kuhabiskan dengan mencuri pandang lewat depan rumah pak kades menggunakan sepeda ontel tua milik bapak. Hatiku menyimpan banyak harapan bisa melihat Mentari saat itu. Sesekali aku dengan sengaja berhenti untuk mengikat tali sepatu hanya agar dapat lebih lama memandangi wajah Mentari. Di sekolah pun kini kegiatanku hanya kuhabiskan dengan memandangi Mentari dari kejauhan. Ternyata jatuh cinta begitu menyenangkan.
Solo, 2000
Satu tahun hanya bisa memandanginya dari kejauhan, hari ini aku beranikan diri untuk mencoba mengajak Mentari berkenalan. Dipenuhi rasa gugup tak karuan, aku menghampiri Mentari yang tampak manis dengan kuncir kepang duanya. Kuletakkan dipangkuannya sepucuk surat yang sudah kupersiapkan dan kulipat sedemikian rapinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku langsung kabur begitu saja.
Untuk Mentari,
Aku Bagus, ingin berkenalan dengan Mentari. Semoga Mentari berkenan berkenalan denganku.
Itu adalah surat pertamaku untuk Mentari yang akhirnya membawa kami menjadi akrab. Surat yang membuatku rela duduk berjam-jam ditemani selembar kertas dan sebuah pena digenggaman. Surat yang membuatku rela sakit mata karena terlau lama menghadap cahaya lampu teplok yang mulai meredup hingga menyisakan sedikit minyaknya, hanya untuk menulis sebaris kalimat mengajaknya berkenalan.
Satu hari setelah kukirimkan surat singkatku itu, Mentari tiba-tiba datang menghampiriku yang seperti biasa tengah memandanginya diam-diam dengan senyuman merekah diwajahnya.
"Selamat pagi Mas Bagus, salam kenal yo. Aku Mentari" Mentari tersenyum kepadaku seraya mengulurkan tangannya ke arahku. Jantungku seketika berdegup tak beraturan. Tak pernah terbayangkan dibenakku akan dapat melihat senyuman manis Mentari dalam jarak sedekat ini.
Jakarta, 2010
Kutatap kalender yang menunjukkan hari Sabtu. Wajahku sumringah, tak sabar menunggu balasan suratku.
Untuk Mentari,
Mentari apa kabar?
Masih ingat denganku? aku Bagus, laki-laki yang masih menunggu Mentari hingga saat ini. Mas Bagus rindu Mentari.
Solo, 2001
"Pokoknya Mentari harus bisa pergi sekolah ke Amerika mas. Mentari penasaran sekali sama rasanya hujan salju, atau ndak musim gugur gitu mas" aku hanya dapat tersenyum melihat Mentari yang begitu bersemangat menceritakan mimpi terbesarnya. Satu tahun sudah aku dan Mentari menjadi dekat sejak surat konyolku yang mengajaknya berkenalan itu. Tak jarang aku mengajak Mentari menonton pertunjukan wayang di balai kota, makan jagung rebus sembari menikmati musik keroncong yang sengaja disetel oleh penjualnya, hingga bersepeda bersama dengan sepeda ontelku menikmati senja sembari menyusuri sepanjang jalanan dengan pemandangan hamparan sawah.
Jakarta, 2010
Ya semuanya berjalan begitu cepat. Puluhan tahun aku berusaha memenangkan hati Mentari. Sosok wanita yang aku tahu tak pernah melihatku sebagai sosok pria. Sosok wanita yang aku tahu, tidak pernah mau menerimaku.
Begitu sampai depan rumah, hal pertama yang kulakukan yaitu mengecek kotak surat. Namun tak selembar surat pun kutemukan. Lagi dan lagi, Mentari tak membalas suratku.
Untuk Mentari,
Tidak apa-apa Mentari tidak membalas surat Mas Bagus yang kemarin. Mungkin Mentari lupa. Tapi Mas Bagus harap, setidaknya Mentari selalu membaca surat-surat yang Mas Bagus kirim. Mas Bagus doakan selalu untuk kebahagiaan Mentari.
Inilah aku, Bagus. Orang yang mencintai Mentari dan tak kenal kata menyerah untuk terus menuliskan sepucuk surat untuk Mentari.
Solo, 2002
Aku akhirnya berhasil lulus SMA dengan nilai memuaskan. Aku pun segera bergegas menghampiri Mentari yang juga berhasil lulus.
"Mas Baguss...beasiswaku diterima!! Mentari bisa ke Amerika mas!!" Mentari langsung memelukku dengan wajah bahagia yang rasanya sulit untuk kudeskripsikan.
"Selamat ya Mentari. Mas Bagus ikut senang"
Kalau boleh jujur, rasa bahagiaku seperti tertutupi dengan kesedihan. Kesedihan karena harus berjauhan dengan Mentari, kesedihan karena meski akan berpisah aku tak kunjung berani mengungkapkan rasa sukaku pada Mentari.
Seminggu sebelum Mentari berangkat, dengan mengenakan kemeja batik terbaikku dan beberapa semprot parfum milik bapak, kupersiapkan penampilan paling rapi dan paling menawan untuk bertemu Mentari. Sembari berkaca, tak lupa kusisir rapi dan kuolesi minyak pada rambutku untuk menyempurnakan penampilanku. Malam ini, aku beranikan diri menemui Mentari untuk mengungkapkan perasaanku.
Kami berjanji untuk sama-sama pergi ke pasar malam yang kebetulan memang sedang ada. Mentari tampak cantik dengan gaun berwarna biru langit dengan hiasan renda putih di beberapa bagiannya. Rambutnya dikuncir kuda dan dipercantik dengan bando pita. Wajahnya diberi polesan bedak tipis-tipis. Ia tersenyum menghampiriku yang sudah bersiap dan menjemputnya dengan sepeda ontel bapak yang biasa kami naiki bersama.
Sepanjang malam itu, kami habiskan dengan bersenang-senang. “Mas Bagus, Mentari mau dibelikan jagung rebus itu” usai naik bianglala, Mentari langsung menarikku menuju penjual jagung tempat biasa kami beli sambil mendengarkan musik keroncong.
Malam itu langit dipenuhi bintang. Cahaya rembulan juga tampak lebih bersinar dari biasanya. Langit dan isinya seperti turut mendoakanku. Di sampingku, Mentari tampak tengah begitu menikmati jagung rebusnya. Aku menghela nafas sejenak, berusaha menghilangkan rasa gugup. Ya, hatiku akhirnya mantap untuk mengungkapkan perasaan ini pada Mentari. Dan akhirnya kalimat itu benar-benar terucap dari mulutku. "Mas Bagus suka sama Mentari"
Jakarta, 2015
Untuk Mentari,
Mas Bagus dengar Mentari sudah kembali ke Indonesia, benarkah itu? Kalau Mentari berkenan, bisakah kita bertemu?
"Mas Bagus tau kan, Mentari ndak bisa menganggap mas Bagus lebih dari teman" ucapan itu tiba-tiba saja terngiang di kepalaku. Kalimat sebelum akhirnya Mentari menghilang begitu saja.
"Dan Mentari juga pasti paham, kalau mas Bagus gak pernah bisa menganggap Mentari hanya sebagai teman"
"Maka kita gak seharusnya bertemu lagi" ujar Mentari kala itu.
"Kalau itu bisa mengubah perasaan Mentari, Mas Bagus mau menunggu"
"Mentari pamit. Mentari selalu doakan kebahagiaan Mas Bagus"
Jakarta, 2016
Untuk Mentari,
Hari ini tepat 14 tahun sejak terakhir kali kita bertemu. Hari ini juga tepat 14 tahun Mas Bagus terus mengirim surat-surat ini untuk Mentari. Saat tahu kalau Mentari sudah di Indonesia, Mas Bagus langsung ke Solo berharap bisa bertemu. Tapi Mentari ternyata sudah tidak tinggal di rumah itu. Sekarang Mas Bagus bingung bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Mentari atau setidaknya dapat mengirim surat-surat ini untuk Mentari.
Hingga kini pun aku masih rutin menulis surat-surat untuk Mentari. Tapi bedanya, saat ini aku hanya dapat menyimpan surat-surat itu tanpa bisa mengirimkannya untuk Mentari. Aku benar-benar telah kehilangan Mentariku.
Jakarta, 2017
Untuk Mentari
Tahukah kamu Mentari, kotak tempat Mas Bagus menyimpan surat-surat ini sudah semakin penuh. Setiap hari Mas Bagus tulis surat kala rindu dengan Mentari. Sesekali Mentari seperti datang di mimpi Mas Bagus. Mentari tersenyum ke arah Mas Bagus. Mas Bagus rindu sekali dengan Mentari.
Tes…
Air mataku menetes begitu saja. Rasa rindu yang teramat sangat pada Mentari tenyata membawa perih ini datang menjadi tangisan. Aku menangis karena merindukan Mentari.
***
"Gus, hari ini kita ada pertemuan dengan pemilik Properti yang bakal kita pakai untuk acara di Solo. Ndak lupa to?"
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan Suryo.
Bertahun-tahun kami membangun bisnis sebagai seorang Event Organizer di Jakarta. Dan kini bahkan kami telah membuka cabang di Solo, tempat kami berasal. Pukul 3 sore, aku dan Suryo langsung terbang menuju Solo.
"Mungkin gak ya Yo, aku bisa bertemu Mentari di sana?" tanyaku pada Suryo.
"Sudahlah Gus, mau sampai kapan kamu memikirkan orang yang bahkan gak peduli sama kamu"
"Setidaknya aku ingin bisa bertemu sama Mentari sekali aja Yo. Ingin tahu, apa dia sudah bahagia."
"Kalau sudah lalu kamu mau apa?"
"Aku lega kalau begitu" ujarku.
Beberapa jam perjalanan dengan pesawat, kini aku dan Suryo berangkat menuju hotel dengan mobil yang sudah siap menjemput kami. Dengan bersender di kursi penumpang, kuistirahatkan kepalaku sejenak kala mobil menunggu lampu merah menjadi hijau. Mataku menjelajah menatap jalanan dari balik kaca jendela mobil. Langit Kota Solo sore itu masih mendung menyisakan rintik gerimis usai hujan deras. Tak jauh berbeda dari Jakarta, jalanan sore di Solo ternyata juga sangat sibuk dan ribut dipenuhi suara klakson motor hingga mobil yang saling tak sabar untuk menembus kemacetan jalan.
Kini aku beralih menatap ke arah gerombolan anak jalanan yang menghampiri mobil-mobil di lampu merah. Ada yang datang dengan ukulele di tangannya, ada yang datang menawarkan koran hingga makanan, ada juga yang datang dengan tangan kosong menjual kemalangannya agar diberi uang. Miris sekali membayangkan kehidupan keras yang harus ditanggung anak-anak itu hingga merenggut masa bahagianya untuk bermain.
Mataku menangkap sosok perempuan yang entah bagaimana langsung mengingatkanku pada seseorang. Meski dari kejauhan, punggung itu rasanya tampak sangat tidak asing untukku. Ah, tapi tidak mungkin itu dia. Pikiranku berusaha menepisnya.
Merasakan lelah dikedua pelupuk mata ini, aku memilih memejamkannya sejenak untuk mengistirahatkannya. Samar-samar, terdengar suara seorang wanita yang tengah bernyanyi mendekati mobil yang kutumpangi.
"Gus," panggil Suryo seraya menyenggol lenganku.
"Apa Yo?" ujarku enggan membuka mata.
"Mentari" ujarnya pelan.
Satu kalimat yang langsung membuatku menegang seketika.
Wajah seorang wanita yang tak kalah terkejutnya, kini tengah menatapku di balik jendela mobil yang kutumpangi. Tangannya menggenggam erat sebuah ukulele.
"Mentari" ucapku lirih.
Mentariku terlihat begitu layu. Rambut panjang indahnya, terpangkas pendek. Tubuhnya dipenuhi tato tak beraturan. Telinganya penuh tindikan. Kini aku cemas. Aku sakit melihatnya seperti ini. Apa yang telah menimpanya?
Magelang, 12 Oktober 2020
Comments
Post a Comment