Sore itu
Langkah kaki ini terus menelisik, menelusuri setiap jalanan kota sore itu. Membingkai kisah orang-orang itu, para pengais rejeki yang mengadukan nasibnya di Jalanan.
"Tersesat neng?" Aku terperanjat mendengar seseorang bersuara tepat di sampingku.
Penampilannya, berantakan. Celana jeans yang sobek-sobek. Rambut yang tak tertata rapi. Kemeja lusuh dan sepasang sepatu kumal yang entah sudah tak dicuci sejak kapan.
"Tenang, saya bukan preman atau pencopet" ujarnya lagi.
Aku masih diam. Jujur saja, ketakutan itu memang sempat terbesit di pikiranku. Tapi begitu aku menatap matanya, ah... benar-benar indah sekali, aku seketika melupakan rasa takutku. Dia orang baik.
"Penampilan kami memang berantakan, tapi kami orang baik. Damar" ia kembali berucap seraya mengulurkan tangannya ke arahku.
"Ratna"
Ia tersenyum, ah... senyumannya pun ternyata begitu manis.
"Karena sudah di sini, biar kutunjukkan sesuatu yang menarik" tanpa ragu, tangannya menarik tanganku begitu saja.
Langkah kakiku sedikit terseok-seok mengikuti kakinya yang berjalan cepat.
"Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Melihat pertunjukan"
Laki-laki yang kutahu bernama Damar itu menghentikan langkahnya.
"Kamu tidak takut ketinggian bukan?"
Dengan wajah keheranan, aku menggeleng. Damar tersenyum dan kemudian kembali menggandeng tanganku sembari berjalan.
Kami tiba di sebuah gedung tua yang sepertinya gagal dibangun dan tampak tak terurus. Mataku kembali menatap penuh was-was. Bayangan akan niatan jahat yang mungkin akan dilakukan oleh Damar kembali memenuhi pikiranku.
Damar sudah melepaskan genggaman tangannya dariku. Ia menatap ke atas, entah apa yang sedang ditatapnya.
"Sudah waktunya pertunjukan. Ayo!" ia kembali menggandeng tanganku dan berjalan cepat memasuki gedung tua tersebut.
Aku benar-benar pasrah saat ini. Jika memang dia memiliki niat jahat padaku, maka doaku hanya satu, semoga tidak terasa menyakitkan. Entah sejak kapan, namun aku sudah menutup mataku rapat-rapat. Kakiku pasrah mengikuti Damar yang terus berjalan sembari menggandeng tanganku.
"Kita sampai" dibayangi rasa takut sekaligus penasaran, perlahan kuberanikan diri membuka mata ini. Betapa takjubnya aku melihat hamparan pemandangan langit sore berwarna jingga keunguan terbingkai tepat di kedua mataku. Suasana tampak begitu tenang, jauh dari kebisingan kota yang dikenal sangat bersahabat dengan kemacetan ini.
"Nyaman bukan?"
Tanpa mengalihkan perhatianku dari menatap si jingga sore yang seolah tersenyum melambai ke arahku, aku mengangguk menjawab pertanyaan Damar.
"Terima kasih ya" ujarku.
"Hari ini, aku mengalami banyak sekali cerita tak menyenangkan. Hidup terasa sangat berat untukku di hari ini. Tapi si jingga ini benar-benar menenangkanku. Sekali lagi, terima kasih Damar"
Mataku kini beralih menatap ke arah Damar yang juga masih tampak menikmati keindahan si jingga.
"Bertahanlah. Masalah dan manusia itu akan selalu dipertemukan. Itu bentuk sayang semesta pada kita. Kalau menginjak kerikil yang kecil, jangan mengaduh. Umpat dan lempar saja kerikil itu sejauh mungkin. Supaya tidak terinjak lagi"
Aku hanya dapat tersenyum dan kembali fokus menikmati si jingga yang perlahan hilang tergantikan langit malam.
Magelang, 5 Desember 2020
Comments
Post a Comment