Petuah Paman Kentang

Di negeri Sayuran, berdirilah sebuah desa kecil bernama Desa Aloha yang hanya dihuni oleh 10 keluarga. Desa Aloha dikenal sebagai desa yang sangat aman dan damai. 
Disuatu pagi saat matahari tengah dengan malu-malu menyapa langit, seperti biasa Bibi Alpha tengah menyiapkan makanan untuk sarapan para anak-anak di desa Aloha. 
Paman Kentang dengan sepeda kesayangannya datang sembari bersenandung mengantarkan susu untuk anak-anak.
"Hohoho... anak-anak, jangan lupa minum ramuan milik Paman Kentang ini supaya kalian selalu sehat dan kuat" ujar Paman Kentang dengan suara beratnya yang khas sembari membagikan sebotol susu ke semua anak.
Ditengah kegiatan anak-anak yang sedang menikmati susu yang diberikan Paman Kentang, tanpa disangka-sangka dari kejauhan Paman Kentang melihat sesosok makhluk berwarna hijau tengah mengamuk tak terkendali.
"Monster!!!" Seru anak-anak berteriak ketakutan
"Aku akan menghancurkan kalian semuaa!!" Makhluk berwarna hijau yang sedari tadi terus diteriaki monster itu semakin terlihat mengamuk dan menghancurkan apapun yang ditemuinya. Semua anak-anak tampak ketakutan dan kini terlihat bersembunyi di belakang tubuh gembul Paman Kentang dengan wajah penuh awas.
"Hohoho...ada apa ini nak? Apa yang membuatmu begitu marah seperti saat ini?" Paman Kentang yang mengetahui bahwa makhluk hijau itu sebenarnya bukanlah seorang monster seperti yang diteriaki anak-anak perlahan berjalan mendekatinya.
"Akan kuhancurkan anak-anak nakal itu!!" Ujarnya masih dengan raut wajah marah yang seketika membuat anak-anak kembali menjerit gaduh ketakutan. 
"Paman jangan dekat-dekat dengannya, nanti paman bisa tersengat kepalanya yang tampak menyeramkan itu" Si wortel yang memang kerap dijadikan kapten yang memimpin anak-anak di Desa Aloha tersebut memberanikan diri bersuara setelah sebelumnya turut bersembunyi karena takut.  
"Kalian yang menakutkan, bukan aku!!" Makhluk berwarna hijau itu kini tampak memperlihatkan raut wajah sedih yang juga masih dibarengi dengan kemarahan. 
Paman Kentang perlahan mulai memahami apa penyebab dari kekacauan ini. "Wortel, benarkah kamu pemimpin paling berani dan bijaksana di Desa Aloha ini?" Paman Kentang mengalihkan pandangannya ke arah wortel.  
"Tentu saja paman, diantara teman-temanku ini, akulah yang paling berani dan bijaksana dan yang paling terpenting aku tak pernah menolak setiap Bibi Alpha meminta bantuanku." Dengan penuh rasa percaya diri dan kebanggaan, Wortel terus memuji dirinya sendiri. "Lalu, apakah kau tidak bisa membuat si hijau ini menjadi temanmu juga?" 
"Namaku Brokoli..." dengan suara lirih, si makhluk hijau itu menanggapi ucapan Paman Kentang.  
"Tidak bisa paman, dia terlihat menyeramkan. Aku tidak bisa membiarkan teman-temanku ketakutan saat melihatnya" si Wortel menolak mentah-mentah keinginan Paman Kentang. "Hemm..ternyata paman terlalu tinggi menilai anak-anak di sini. Paman kira, kalian semua adalah anak baik. Tapi ternyata kalian semua hanyalah anak nakal yang gemar membuat sedih anak lain." Dengan raut wajah sedih sembari mencibirkan bibir, Paman Kentang enggan melihat ke arah Wortel dan anak-anak lainnya."Tapi dia terlalu menyeramkan untuk dijadikan teman paman" si Jagung yang sedari tadi hanya terdiam pun kini turut bersuara membenarkan ucapan wortel."Aku tidak menyeramkann!!" Brokoli yang tidak terima dengan ucapan Jagung pun secara mengejutkan langsung mendorong tubuh Jagung hingga ia terjatuh tersungkur. Paman Kentang kemudian tersenyum. Tatapannya bergiliran menatap satu persatu anak-anak di depannya saat ini, tak terkecuali si hijau yang kini ia ketahui bernama Brokoli. Secara mengejutkan, Paman Kentang tiba-tiba duduk santai seolah melupakan keributan yang tengah berada di depannya saat ini. 
"Kalian duduklah membentuk lingkaran. Dan kau si hijau, sini duduk di sampingku" Meski awalnya anak-anak tak mengindahkan ucapan Paman Kentang, mereka akhirnya duduk juga setelah Wortel memberi intruksi pada mereka untuk duduk.
"Kalian tahu tidak kenapa kita diciptakan dengan warna dan bentuk yang berbeda-beda?" Paman Kentang melayangkan sebuah pertanyaan yang serentak dijawab dengan gelengan kepala oleh anak-anak. 
"Karena semesta mencintai keberagaman" Anak-anak terdiam, menatap Paman Kentang dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Tahu kenapa semesta mencintai keberagaman?"Lagi dan lagi pertanyaan Paman Kentang dijawab dengan gelengan.  
"Karena dengan keberagaman, setiap makhluk secara alami akan membutuhkan satu sama lain. Wortel mungkin adalah pemimpin yang hebat yang berani, tapi untuk masalah kecerdasan dia membutuhkan bantuan bayam yang sejatinya memiliki tubuh yang tidak segagah wortel. Si hijau yang namanya Brokoli ini mungkin terlihat menyeramkan, tapi siapa yang tahu kalau dia ternyata memiliki kemampuan yang kalian tidak bisa kuasai" 
"Aku mahir dalam ilmu sulap..." dengan suara lirih, Brokoli menyela ucapan Paman Kentang. Ia bahkan menunjukkan sedikit kemampuan sulapnya tersebut yang seketika membuat anak-anak melayangkan tatapan kagum kepada Brokoli. 
"Kita tidak boleh dan tidak berhak menghakimi sesama ciptaan semesta. Mau seburuk dan sejelek apapun itu, dimata semesta kita tetap sama dengan dia. Paham anak-anak?" 
"Sekarang paman ingin, anak-anak hebat yang paman kenal ini mengajak Brokoli untuk turut serta menjadi teman kalian. Bisa?" Semua anak-anak terdiam sejenak, saling melayangkan tatapan ke satu sama lain seolah tengah berdikusi secara telepati. Hal itu pun seketika membuat Paman Kentang tersenyum simpul. 
"Lagipula jika dilihat-lihat, si hijau ini tampak kuat. Dia bisa menjadi penanggung jawab keamanan di kelas ini. Bukankah Wortel butuh bantuan untuk mengamankan kelas ini dari monster-monster jahat yang kerap diceritakan Bibi Alpha?" Paman Kentang mencoba menyinggung monster-monster yang kerap diceritakan oleh Bibi Alpha untuk membuat anak-anak yakin mau menerima Brokoli. 
Ditengah kegiatan saling tatap dan juga si Brokoli yang masih menanti apakah dirinya diterima dengan harap-harap cemas, Wortel kemudian berdiri dari duduknya. "Baiklah, aku mewakili teman-temanku setuju untuk menjadikan dia sebagai teman kami karena kami tidak ingin menjadi jahat dan dibenci semesta" ucapan Wortel tersebut pun disambut dengan anggukan serentak dari semua anak-anak. Brokoli yang melihat hal tersebut pun tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Ia menatap ke arah Paman Kentang dengan tatapan terima kasih. 
"Maafkan perlakuan jahat kami ya Brokoli" Paprika yang memang dikenal sebagai anak yang paling lembut pun berdiri menghampiri Brokoli dan mengulurkan tangan, memohon maaf mewakili teman-temannya yang kemudian diikuti oleh semua anak-anak. 
Brokoli pun tak ragu menyambut uluran tangan dari anak-anak sebelum akhirnya mereka semua saling berpelukan secara bersama-sama. "Ehemm..ingat ya anak-anak, jika ada yang datang lagi dengan bentuk yang berbeda dari kalian, jangan lupakan petuah yang paman ucapkan tadi. Kita..." 
"Tidak boleh dan tidak berhak menghakimi sesama ciptaan semesta" anak-anak langsung menyambut dan menyelesaikan ucapan Paman Kentang yang kemudian menimbulkan gelak tawa dari Paman Kentang.

Magelang, 21 Januari 2021

Comments

Popular Posts