Si Batu Sulung, Tengah, dan Bungsu

Alkisah disuatu pagi, seperti biasa sang matahari menampakkan diri di langit yang tengah mengucap perpisahan dengan bulan. Burung-burung pun mulai beterbangan meninggalkan sangkar, mencari makan untuk para telur yang sepertinya siap menetas hari ini. Di tengah-tengah luasnya hamparan sawah, suara gemericik air sungai terdengar semakin menambah syahdunya suasana pagi. "Woooahh, selamat pagi ayah" si batu bungsu di sungai yang terbangun lebih cepat dari kakak-kakaknya pun menyapa sang ayah batu dengan nada riang. 
"Selamat pagi nak" sang ayah membalas sapaan sang anak bungsunya itu dengan senyuman.
"Wah, arus sungai hari ini terlihat sangat tenang ya yah" si bungsu kembali berucap kepada ayahnya. Tak jauh dari tempat si bungsu, terlihat deretan batu sungai lainnya yang tengah menari bersama dengan air sungai hingga menimbulkan suara gemericik air yang bercampur dengan ketukan antar batu. 
Cik cik cak...Cik cik cak
Menari bersama, bernyanyi bersama
Saka saka bum...Saka saka bum
Si bungsu pun tampak mulai turut serta bergoyang begitu mendengar nyanyian dari para batu yang dilihatnya itu.
Tak berapa lama, si sulung dan juga si tengah yang sudah terbangun pun datang dan juga memberikan sapaan kepada ayah batu seperti yang sudah bungsu lakukan sebelumnya. 
"Nak, ayah ingin menanyakan sesuatu pada kalian?" 
Begitu mendengar ucapan sang ayah batu, si bungsu yang tengah asik menikmati pertunjukan tari dan musik dari para batu pun langsung mendekat ke arah ayahnya. Si sulung dan juga si tengah pun turut serta bergabung.
"Ayah lihat, kalian kini telah tumbuh semakin besar. Jika kalian diberikan kesempatan untuk pergi dari sungai ini, kalian ingin ke mana?" 
Mendengar pertanyaan sang ayah, si sulung, tengah, dan bungsu pun tampak langsung berpikir keras. 
"Emm, sulung ingin ke gunung itu yah" si sulung menjawab pertanyaan sang ayah dengan sangat yakin.
"Kenapa nak?" 
"Karena konon katanya, batu gunung adalah batu terkuat, terhebat, tergagah, dan terbesar. Kalau sulung berada di sana, maka sulung pun akan jadi batu paling keren" Mendengar jawaban si sulung, sang ayah mengangguk paham.
"Kalau tengah, ingin berada di dekat tebing itu yah." Tatapan si tengah mengarah ke area pertambangan tempat batu-batu berkilau layaknya berlian berada. Lagi dan lagi ayah batu kembali menanyakan alasan jawaban si anak tengahnya tersebut.
"Karena tengah akan jadi batu terindah yang disayangi manusia." Sang ayah batu kembali memberikan respon anggukan paham.
"Kalau bungsu, ingin ke mana?" 
"Bungsu ingin tetap di sini. Di sungai ini yah" 
"Kenapa nak?" Sang ayah kembali menanyakan alasan dari jawaban si bungsu.
"Karena jika si kakak sulung dan tengah pergi, nanti ayah sendiri. Jadi bungsu ingin tetap di sini menemani ayah. Menjadi penjaga sungai yang gagah seperti ayah. Menjadi rumah bagi ikan-ikan" 
Mendengar jawaban si bungsu, sang ayah batu pun seketika tersenyum. 
"Indah sekali tujuan kalian nak. Ayah pastikan sulung akan bisa menjadi batu terhebat dan terkuat seperti batu-batu di gunung itu. Tengah menjadi batu terindah, dan bungsu menjadi si gagah penjaga sungai seperti ayah"
"Sulung tidak jadi ingin ke gunung itu yah. Sama seperti bungsu, sulung ingin di sungai ini bersama ayah. Sulung akan tetap menjadi batu terhebat dan terkuat dengan menjaga arus sungai agar tidak menyebabkan bencana dan melukai manusia" 
"Tengah juga tidak ingin jadi pergi yah, toh saat ini pun tengah sudah terlihat sangat indah" tengah tampak membanggakan warnanya yang sangat putih dan bersih. Tingkah laku dari tengah ini pun seketika mengundang gelak tawa dari ayah, sulung, dan juga bungsu.
"Jadi, kita akan tetap sama-sama di sini dan menjaga sungai ini kan?" 
Pertanyaan si bungsu tersebut kemudian langsung dijawab dengan anggukan kompak dari sulung dan tengah. 

Magelang, 24 Februari 2021

Comments

Popular Posts