Hai Awan, ini Sore

Sore itu, diselimuti perasaan gugup tak karuan aku putuskan untuk mendatangi rumahnya. Becak yang mengantarku, berjalan dengan sangat tenang menyusuri jalanan yang terasa sejuk usai diguyur hujan deras yang hingga kini pun masih menyisakan rintik gerimis kecil. Berkali-kali aku terus mengelus-elus dadaku, berharap bisa mengatur ritme detak jantungku yang berdegup kencang. Tangan dan mataku pun penuh awas berusaha menjaga rangkaian bunga tulip yang nantinya akan kuberikan kepadanya. 
"Sudah sampai mas" kegugupanku semakin bertambah usai sang tukang becak menghentikan becaknya dan mempersilahkan aku untuk turun.
Aku pun lalu memberikan uang 10 ribuan dua lembar sebelum akhirnya becak tersebut beranjak pergi, meninggalkanku tepat dijalan depan rumahnya. Seperti yang sudah kuduga, hari sabtu sore ini deretan mobil yang tampak mewah terparkir beruntun di sepanjang pinggiran jalan dekat rumahnya. Ya, merekalah sainganku yang juga menyukai dia. Tidak hanya satu atau dua, tapi ada lima. 
Dengan berusaha menghilangkan kegugupan ini, dengan langkah yang kubuat semantap mungkin, aku berjalan menuju ke rumahnya. Begitu sampai di teras rumahnya, kedatanganku disambut dengan tatapan dari banyak mata yang kuketahui merupakan para pemilik mobil mewah di depan tadi. Aku memilih tak menghiraukan tatapan mereka dan langsung berjalan menuju pintu yang nantinya akan  membawaku melihatnya. "Assalamualaikum" kuucapkan salam sesopan mungkin.
Sembari menunggu salamku dibalas oleh sang pemilik rumah, aku memilih membawa mataku menunduk menatap lantai-lantai yang kini kuinjak. "Waalaikumsalam" pupil mataku membesar seketika begitu mendengar salamku terbalas dari suara seorang perempuan. Pandanganku masih belum beranjak meski rasa penasaran memaksaku untuk segera melihat siapa yang membalas salamku ini. Usai menghela nafas panjang, kuberanikan diri menatap sang pemilik suara. Begitu mataku bertatapan langsung dengannya, kegugupan yang sedari tadi terus bergelayutan pun dengan ajaibnya menghilang begitu saja. Aku kini diselimuti rasa senang yang tak terdeskripsikan. Akhirnya, aku bisa kembali melihat wajah yang kurindukan selama 6 tahun ini. Wajah yang membuatku bersemangat untuk segera menyelesaikan sekolahku.
"Hai Awan, ini Sore" ucapku sembari berusaha mengukir senyum terindah dari bibir ini. Tanganku yang sedari tadi terus berjaga melindungi rangkaian bunga tulip pun kini melanjutkan tugasnya untuk memberikan bunga tersebut kepada pemiliknya. 
"Hai Sore. Apa kabar?" dia memberiku senyuman anggun yang begitu kurindukan. Tangannya terulur menerima bunga tulip yang kubawa. " Terima kasih, untuk bunganya."
Ia kemudian mempersilahkanku untuk duduk, bersama dengan lima orang yang sedari tadi melihatku dengan tatapan yang entah memiliki arti apa. Sore ini, usai 6 tahun aku tak melihatnya, aku merasa sangat yakin untuk memberitahukan tentangku kepada Awan. Aku merasa tak perlu lagi ragu, seperti kala itu. Kala aku yang kemudian memilih untuk tetap diam dan pergi begitu saja. Memilih memberikan batas alih-alih mengiyakan dan menerima kala Awan mengatakan menyukaiku dan akan menungguku membalas rasa sukanya itu. 
"Diminum, Sore" Awan kembali datang membawakan segelas teh hangat untukku. Dan aku pun tak dapat menahan senyumku usai menyeruput tehku. Awan masih ingat jika aku tak menyukai teh manis. 
"Ibuuu, kuncir rambut Dinar berantakan" 
"Sore, dia anakku. Namanya Dinar" 
Senyumku perlahan memudar seketika, dan akhirnya benar-benar hilang usai melihat sesosok laki-laki datang dari dalam rumah Awan.
"Dan ini Mas Satrio, suamiku" 
Ah, aku benar-benar sudah sangat terlambat bukan? Ternyata sainganku hanya satu, dan dia sudah menang telak.

Magelang, 17 Februari 2021 

Comments

Popular Posts