Dua Cangkir Kopi dan Sebuah Obrolan Singkat

"Hai..boleh ikut duduk? Kebetulan meja yang lain penuh" 
Pertanyaan tersebut disambut dengan anggukan memperbolehkan.
Meja disudut ruangan kedai kopi tersebut kini menyisakan dua orang tak saling kenal yang tampak canggung satu sama lain, saling duduk berhadap-hadapan sembari menyesap secangkir kopi yang dipesannya.
Si laki-laki tampak berniat membuka sebuah percakapan, tetapi juga tampak bingung harus memulai dari mana. Si perempuan tampak lebih acuh dan tak berniat membuka sebuah obrolan. Wajahnya tak sumringah, seperti memikirkan banyak hal. Hingga helaan nafas panjangnya membuat si laki-laki menatapnya sekilas.
"Lagi banyak masalah?" Si laki-laki akhirnya memilih membuka percakapan pada si perempuan acuh yang kini duduk di depannya tersebut dengan nada canggung.
Tanpa disangka-sangka, si perempuan mengangguk menanggapi ucapan si laki-laki. 
"Mau cerita?" Si laki-laki kembali melontarkan pertanyaan dengan nada yang lebih rileks begitu melihat respon baik dari si perempuan.
Kali ini pertanyaan tersebut disambut gelengan yang tampak menggambarkan keraguan di wajah si perempuan.
"Katanya kalau cerita dengan orang asing itu lebih nyaman" si laki-laki kembali berucap menanggapi respon si perempuan.
Lagi-lagi ucapan si laki-laki hanya disambut dengan gelengan.
"Hari ini peringatan kematian ibu saya. Tadi saya berkunjung ke makam ibu saya. Saya mengobrol banyak padanya, ada ceruta yang bahagia, ada pula yang sedih. Tapi saya masih kurang puas, karena ditengah obrolan, hujan tiba-tiba turun deras. Jadinya saya harus berteduh, meninggalkan makam ibu saya, dan obrolan yang belum selesai" si laki-laki tiba-tiba bercerita panjang lebar kepada si perempuan.
"Oh iya, 3 hari lagi adik perempuan saya sekaligus adik saya satu-satunya akan dipinang. Saya akan menjadi wali ketika ijab kabul. Ayah saya juga sudah meninggal. Lebih dulu dari ibu saya. Saya masih ingat sekali, bagaimana susahnya saya dan adik saya yang harus berjuang mati-matian demi kelangsungan hidup kami." Si laki-laki kembali bercerita panjang lebar. Tapi kini, si perempuan terlihat mencondongkan badannya lebih maju sembari menyimak cerita dari si laki-laki dengan penuh seksama. Si laki-laki tersenyum melihat dirinya kini diperhatikan oleh si perempuan.
"Rasanya bahagia sekali bisa melihat adik kecil saya yang dulu selalu merengek karena saya tidak bisa membelikannya mainan barbie, kini akan segera menjadi seorang istri" melihat antusias dari si perempuan terhadap ceritanya, si laki-laki kembali melanjutkan ceritanya. Tak disangka, si perempuan menanggapi cerita si laki-laki dengan senyuman.
"Pernikahan adik saya adalah salah satu cerita bahagia yang saya obrolkan di makam ibu saya."
Si laki-laki kemudian menyesap kopi di cangkirnya yang mulai habis.
"Kopi saya sudah mau habis, saya akan segera pamit pergi" si laki-laki seperti memberi isyarat bahwa obrolan ini akan segera berakhir.
Si perempuan kemudian tampak mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Nanti kalau kita bertemu lagi, giliranku untuk bercerita dan kamu mendengarkan. Aku sangat menikmati obrolan singkat denganmu ini. Maaf kalau aku tidak berbicara sedari tadi. Karena memang aku tidak bisa. Namaku Aida. 
Si perempuan kemudian beranjak meninggalkan kursinya terlebih dahulu. Ia memberikan secarik kertas tersebut kepada si lak-laki. Kini meja di sudut ruangan tersebut hanya tinggal menyisakan si laki-laki dan dua cangkir kopi yang sudah kosong.

Magelang, 10 Maret 2021

Comments

Popular Posts