Dari Ibu
Pagi ini, udara terasa lebih dingin dari pagi-pagi sebelumnya. Semalam, hujan secara merata mengguyur dengan sangat deras. Lewat televisi kecil di ruang tamu, terdengar sang pembawa berita mengabarkan sebuah desa yang terkena bencana longsor akibat keganasan hujan semalam. Masih berbalut sarung yang kukenakan untuk sholat subuh, aku duduk di kursi panjang yang terletak di ruang tamu. Ditemani segelas kopi Kapal Api dan pisang goreng hangat, aku duduk santai sembari menyaksikan siaran berita tersebut.
Jangan lupa, hari ini jadwalnya membayar SPP sekolah adekmu ya mas.
Aku tersenyum, "iya bu, aku gak akan lupa"
Sudah siap dengan seragam putih biru lengkap dengan sepatu hitam dan tas yang ditentengnya, Retna langsung memintaku untuk mengantarnya.
"Yuk mas, aku udah siap" ujarnya padaku.
Aku pun segera mengganti sarung yang kukenakan dengan celana dan bersiap untuk mengantarkan Retna ke sekolah. Menaiki motor Jupiter yang dulu kubeli dengan gaji yang kukumpulkan sedikit demi sedikit, adikku itu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Sesampainya di sekolah, tak lupa aku juga memberikan sebuah amplop berisikan uang SPP untuk Retna.
"Nanti mas Rumi gak usah pesenin ojek, Retna biar naik angkot aja pulangnya" dengan raut wajah tersenyum, kuusap kepala adikku itu sembari menganggukkan kepala mengiyakan ucapannya dan berlalu pergi untuk segera bersiap kerja.
Kerjanya hari ini jangan capek-capek ya mas.
"Iya bu, pasti"
Sepulang dari kerja, aku sudah disambut dengan sepiring nasi goreng bungkus yang terhidang di meja makan.
Mendengar saat aku telah membuka pintu, Retna keluar dari kamarnya untuk menyambutku. Aku menatap adikku itu dengan tersenyum yang kemudian dibalasnya, "iya mas sama-sama" ujarnya.
Sebelum tidur, sholat isya dulu mas. Jangan lupa minum satu sendok madunya ya.
"Hari ini melelahkan sekali bu. Aku baru pulang pukul 8 malam" tanpa sadar, mataku terlelap begitu saja.
Mulai dari sebulan lalu, rutinitasku kini menjadi bertambah satu. Bukan hanya menikmati pagi dengan meminum segelas kopi sembari menonton televisi dan duduk santai di kursi panjang ruang tamu, mengantarkan Retna ke sekolah, berangkat kerja dari pukul 9 pagi hingga 5 sore, sesekali memesankan ojek untuk menjemput Retna, pulang kerja dan makan makanan yang dibelikan Retna dan kemudian tidur. Ibu memberiku rutinitas baru sejak sebulan lalu. Usai meminum segelas kopi dan bersantai menikmati pagi, sebelum bersiap untuk berangkat kerja, usai makan makanan yang dibelikan Retna dan sebelum akan beranjak tidur, ibu menyuruhku membuka pesannya yang ia tulis dalam secarik kertas kecil yang telah diberi tanggal, bulan, dan tahun, yang ia masukkan dalam sebuah toples bertuliskan "Dari Ibu".
Masih teringat jelas di benakku, pesan pertama yang kubuka dari ibu.
Maafkan ibu ya mas, hanya bisa menemani kamu dan Retna sampai sini.
Ah... tapi meski memiliki satu rutinitas tambahan, aku juga kehilangan satu rutinitas. Rutinitas untuk memijit ibu.
"Mas, nanti jangan pulang malam ya. Hari ini kita nyekar ke ibu. Gak lupa kan?"
Aku tersenyum ke arah adikku. Tanganku berucap, "iya Retna. Mas Rumi gak lupa".
Magelang, 20 Januari 2022
Comments
Post a Comment