Jali si Anak Petani
Alkisah, disebuah desa hiduplah sebuah keluarga petani. Ada sang bapak yang bernama Pak Adi, ibu yang bernama Lestari, kakak yang bernama Jali, dan si bungsu yang bernama Pipit. Si Jali ini memiliki kegiatan sehari-hari membantu bapaknya, Pak Adi merawat kebunnya yang ditanami sayuran kol dan cabai. Suatu hari usai pulang bermain, Jali kembali ke rumah dengan wajah murung. Namun wajah murung dari Jali ini ternyata tidak langsung disadari oleh keluarganya. Ibu Lestari yang sudah selesai mempersiapkan makan malam untuk keluarganya pun segera memanggil kedua anak dan juga suaminya untuk makan malam. Lauk makan malam kali ini yaitu ada ikan asin, tempe goreng, sayur kol yang merupakan hasil panen dari kebun, dan sambal yang juga merupakan hasil panen dari kebun.
"Ibu, pipit maunya telur goreng" Pipit merengek pada Ibu Lestari.
"Ikan asin dan tempe goreng ini juga gak kalah enak dari telur goreng nak. Iyakan Mas Jali?" Ibu Lestari berusaha membujuk anak bungsunya itu agar mau makan lauk yang ada saat ini.
"Ayam goreng lebih enak" tanpa disangka-sangka, Jali menjawab ucapan ibunya dengan nĂ da ketus.
"Mas Jali..." Ibu Lestari terlihat kaget dengan ucapan anak sulungnya tersebut.
"Bu, pak...tidak bisakah kita pindah ke rumah yang lebih besar? Ke rumah dekat pedesaan, bukan di perkebunan seperti ini. Teman-temanku selalu mengejekku kotor dan bau lumpur karena tempat tinggalku. Mereka juga tidak mau bermain denganku" Jali tidak bisa lagi menyembunyikan segala kesedihannya karena ejekan dari teman-temannya. Ia menangis terisak-isak. Mendengar tangis dari anak sulungnya tersebut, Ibu Lestari langsung memberikan pelukan hangat menenangkan.
Malam itu, Jali tertidur di pangkuan sang ibu usai kelelahan menangis. Paginya, ia bangun lebih telat dari biasanya. Jali terbangun saat matahari sudah sepenuhnya bertengger di atas langit. Jali lalu segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke dapur untuk menemui ibunya. Namun ia tak dapat menemukan ibunya di dapur. Ketika mencari bapak serta adiknya, Jali juga tidak menemukan di seluruh sudut rumahnya tersebut.
"Apa mereka sudah pergi ke kebun?" Pikir Jali yang kemudian memutuskan untuk segera menyusul keluarganya ke kebun. Namun ketika sampai di kebun, ia juga tak menemukan ibu, bapak, maupun adiknya di sana.
"Air...kami butuh air..." Jali terkejut saat mendengar sebuah suara rintihan yang entah dari mana asalnya. Matanya menoleh ke kanan, kiri, dan belakang untuk mencari sumber suara tersebut.
"A...ku di sin..i Ja..li" suara rintiham itu kembali terdengar semakin jelas di telinga Jali.
"Kamu siapa??!! Dan dimana kamu??!!" Jali bersuara dengan nada yang mulai terdengar sedikit takut.
"Ak...u di bawah...mu"
Jali lalu menundukkan pandangan, tepat kearah bawah. Dan betapa terkejutnya ia, ternyata sumber suara rintihan tersebut datang dari salah satu tanaman cabai di kebunnya.
"Ka...ka...kamu bisa berbicara???!!"
"Ak..u mem...ang bis...a ber...bicara Jalu. A...ku teman...mu, Moli. Tolon...g aku but...uh a...ir" cabai tersebut kembali berbicara pada Jali dengan suara terbata-bata. Masih belum bisa menghilangkan rasa terkejutnya, Jali lalu mengambil air dari sebuah aliran sungai yang memang berada dekat dari kebunnya dan menyiramkannya ke cabai yang bisa berbicara tersebut.
"Aaaahhh, segar sekalii. Terima kasih Jali" cabai tersebut kini bisa berbicara dengan lebih lancar.
"Tadi katamu, kamu temanku? Dan bagaimana mungkin sebuah cabai bisa berbicara??" Jali kembali menanyakan hal yang sama kepada cabai tersebut.
"Dulu kita memang berteman Jali. Kamu yang menanamku sejak aku masih hanya sebuah biji cabai saja. Kamu selalu merawatku dengan memberiku pupuk dan air yang cukup. Tapi setelah kamu dan keluargamu pindah, kami semua jadi tidak terurus dan akhirnya satu persatu dari kami mulai mati" cabai tersebut berucap ke Jali dengan nada sedih.
"Aku memang pindah ke mana?" Jali kembali bertanya.
"Kamu mengajak seluruh keluargamu untuk pindah ke rumah di pedesaan yang ramai orang dan jauh dari kami. Karenanya, keluargamu pun akhirnya juga mulai meninggalkan kami. Kami akhirnya kini hanya menjadi tanaman liar yang tak terurus"
"Kenapa keluargaku meninggalkan kebunnya?" Jalu masih terus melemparkan pertanyaan kepada cabai tersebut.
"Karena kamu tidak menyukai kami, dan lebih menyukai teman-temanmu. Kamu membenci lumpur yang membuatmu kotor dan bau. Kamu lalu menyuruh bapak dan ibumu untuk tidak lagi menjadi petani"
"Aku melakukan itu? Tapi kenapa?"
"Karena teman-temanmu di desamu kini, tidak menyukai kamii!!" Suara lain tiba-tiba datang entah dari mana.
"Siapa itu??"
"Aku tanah berlumpur yang kamu benci Jali"
Jali lalu mengarahkan pandangannya, tepat ke arah kakinya berpijak.
"Ka...ka...mu juga bisa berbicara??!!" Jali kembali melemparkan pertanyaan yang sama ke arah tanah berlumpur di bawahnya dengan nada yang juga tak kalah terkejut.
"Aku memang bisa berbicara Jali. Aku temanmu, Rong-Rong. Kenapa kamu kembali ke sini? Bukankah kamu benci dengan kami??!!" Tanah berumpur yang memperkenalkan diri dengan nama Rong-Rong tersebut berbicara ke arah Jali dengan nada ketus.
"Untuk apa aku membenci kalian? Karena kalianlah keluargaku bisa hidup berkecukupan. Kami juga tak pernah kekurangan makanan, karena selalu memakan hasil dari kebun ini. Oh iya, karena buah cabai yang kamu hasilkan Moli?" Jali mengucap nama Moli dengan ragu.
"Kami juga bisa membagikannya ke warga di desa. Berkat tanah gemburmu, Rong-Rong?" Jali kembali mengucap nama yang kini merupakan nama dari lumpur yang bisa berbicara tersebut dengan nada ragu.
"Kami tidak pernah gagal panen. Jadi untuk apa aku membenci kalian?"
"Karena katamu, gara-gara kami kamu jadi dijauhi oleh teman-temanmu" Moli membalas ucapan Jali dengan nada sedih.
Setelah terdiam sejenak, Jali pun akhirnya ingat kejadian di malam itu saat ia kemudian berakhir menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya.
"Aku minta maaf, aku baru ingat dengan ucapanku itu" Jali kembali bertutur dengan nada menyesal.
"Sudah terlambat. Lihatlah kami Jali. Tanahku kini sudah tak segembur dulu, karena telah lama tak dibajak. Semua cacing yang tinggal di dalamnya sudah mati. Dan Moli, hanya dia cabai yang masih bertahan. Dan sepertinya, dia juga akan segera mati" Rong-Rong membalas ucapan Jali dengan nada sedih.
Jali terdiam. Ia pun bingung harus bagaimana agar bisa mengembalikan kebun yang telah ia dan keluarganya rawat selama bertahun-tahun tersebut.
"Aku akan berusaha mengembalikan semuanya. Aku pastikan, Moli tidak akan mati. Aku akan memberinya pupuk agar dia bisa kembali subur dan berbuah. Dan kamu Rong-Rong, aku pastikan kamu akan bisa gembur lagi"
"Tapi nanti kamu jadi kehilangan teman-temanmu Jali"
"Aku tidak peduli dengan itu. Jika aku bisa berteman dengan mereka dengan harus mengorbankan kalian yang selalu ada untuk keluargaku, maka aku lebih baik tidak berteman dengan mereka. Kalianlah bagian dari keluargaku. Kalian kesayangan bapak dan ibuku, dan tentunya juga aku. Jadi aku pastikan kalian akan kembali seperti dulu"
"Jali, nak bangun yuk. Sudah siang"
Saat perlahan-lahan Jali membuka kedua matanya, ia tengah berbaring di kamarnya. Dilihatnya wajah sang ibu yang baru saja membangunkannya.
"Ibuuu, Jali tidak mau meninggalkan kebun kita. Jali akan terus merawat mereka. Jali tidak peduli jika harus kotor saat merawat mereka" Jali langsung memeluk ibunya dengan erat. Ibu Lestari yang bingung dengan tingkah laku dari anak sulungnya itu pun hanya membalas pelukan eratnya.
"Jali tidak mau Moli mati dan kehilangan teman-temannya bu. Jali juga tidak mau Rong-Rong menjadi tanah yang gersang dan tidak gembur lagi. Kita harus selalu menjaga mereka ya bu" Jali kembali berucap kepada ibunya.
"Moli dan Rong-Rong? Mereka itu siapa nak?"
"Teman-teman Jali di kebun kita bu. Moli itu cabai yang sudah Jali tanam dan rawat sejak masih berbentuk benih, dan Rong-Rong itu adalah tanah tempat tinggal dari tanaman-tanaman di kebun kita"
Sang ibu hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari anaknya itu.
"Jali kira, teman-teman yang Jali punya hanya mereka yang selalu mengejek Jali kotor dan bau lumpur. Tapi, Jali tidak sadar kalau Jali punya teman yang lebih baik dan bahkan selalu ada untuk keluarga kita bu"
"Jadi, Jali tetap mau tinggal di sini dan merawat kebun kita?"
Jali mengangguk dengan penuh semangat, menjawb pertanyaan dari ibunya.
"Jadi, sudah siap untuk membantu bapak merawat Moli dan Rong-Rong di kebun hari ini?"
"Siappp!!" Jali segera beranjak dari tempat tidurnya dengan penuh semangat.
Magelang, minggu 26 Februari 2023
Comments
Post a Comment