Dia, si Pemilik Sepatu Lusuh
Pagi itu tak ada yang istimewa kecuali lauk telur mata sapi utuh yang Alit dapatkan di rumahnya. Ya, memang sesulit itulah hidup Alit. Makan harus berbagi dengan adik dan ibunya, dan harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Itulah kenapa bisa sarapan dengan lauk telur utuh, adalah hal istimewa bagi Alit karena biasanya hanya bisa didapatkan jika Alit dapat uang lebih banyak atau tidak, jika ada tetangga yang mengadakan acara dan berakhir dengan berbagi sembako. Biasanya jika hendak makan telur, maka ibunya hanya akan menggunakan satu butir telur untuk sekeluarga yang lantas dicampur dengan tepung dan dimasak dadar. Mengenakan jaket denim lusuh yang entah sudah berapa lama menemani Alit bersama pekerjaannya, lengkap dengan sepatu yang juga tak kalah lusuh. Alit masih berdiri dengan mata menahan kantuk menunggu angkot yang akan membawanya menjemput uang.
"Kiri bang" Alit turun dari angkot di sebuah pasar kumuh di pinggir kota yang cukup ramai pedagang.
Alit menghela nafas sejenak sebelum memulai apa yang akan mendatangkan uang untuknya itu.
"Butuh jasa angkut neng?" Alit mendekati sosok wanita yang tampak kebingungan membawa sekarung beras yang dibelinya. Tangannya sudah sibuk menenteng belanjaan sayur dan lain-lainnya yang terlihat cukup banyak.
"Boleh" Alit pun langsung mengangkat karung beras tersebut begitu mendapatkan persetujuan.
Bersama sekarung beras yang dipikulnya, Alit mengikuti langkah wanita itu yang kemudian berhenti di salah satu tukang becak yang memang mangkir di depan pasar. Wanita itu menyuruh Alit meletakkan karung berasnya di becak yang akan dinaikinya. "Terima kasih ya mas" deg, jantung Alit tiba-tiba saja berdetak lebih kencang kala wanita itu mengucapkan terima kasih lengkap dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Cantik sekali, begitulah hati Alit berbicara.
Kini tangan wanita itu terulur memberikan uang 10 ribu ke Alit.
"Alit" entah darimana datangnya keinginan itu, Alit tiba-tiba saja sudah mengulurkan tangan memperkenalkan nama dirinya.
"Ah...maaf" menyadari kebodohannya, Alit langsung menarik kembali tangannya.
"Putri" tanpa disangka-sangka, wanita itu membalas ucapan Alit. Tentu tidak dengan uluran tangan Alit.
Ketika akhirnya becak si wanita yang kini Alit ketahui bernama Putri itu pergi, mata Alit terus mengikutinya hingga benar-benar tak bisa terlihat olehnya lagi.
Hari berikutnya, Alit kembali menjalani rutinitas yang sama. Hingga sebuah panggilan membuat senyuman seketika merekah di wajahnya.
"Mas Alit, saya minta tolong dibawakan lagi ya"
Sudah berada di depan Alit, sosok Putri lengkap dengan senyuman ramah di wajahnya. Alit pun segera membantu Putri membawa karung yang entah berisi apa.
"Kali ini beli apa? sampai sekarung gini" sembari berjalan beriringan, Alit memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Keperluan warung ibuk"
Pertanyaan Alit dijawab singkat oleh Putri, namun dengan nada yang sangat lembut.
Di hari-hari berikutnya, Alit tak pernah absen menjadi jasa kuli panggul untuk Putri. Ia bahkan mulai hafal dengan kehadiran Putri di pasar.
"Makasih Mas Alit, Putri pamit dulu" ya, kini obrolan keduanya juga semakin terasa akrab.
Hingga di satu waktu, Putri ternyata tak kunjung mendapatkan tumpangan becak dan harus menunggu cukup lama. Alit lantas memutuskan untuk menemani Putri, menunggu mendapatkan becak.
"Warung ibuk Putri di seberang sana, mas. Tepat disamping mushola paling dekat dari pasar ini" Putri tiba-tiba memulai percakapan, usai keduanya hanya saling berdiri dalam diam.
"Oh iya? aku tau tuh warungnya"
"Putri juga pertama tahu Mas Alit dari situ" ucapan Putri seketika mendapatkan balasan tatapan kebingungan dari Alit. Ia mengira pertemuan pertamanya dengan Putri adalah saat ia menawarkan jasa panggul untuk sekarung beras yang dibelinya.
"Putri udah lama penasaran sama si pemilik ini" ditunjuknya sepatu lusuh milik Alit.
Alit masih tak berucap dan hanya membalas dengan raut wajah bingung.
"Maksud kamu sepatu yang aku pakai ini?"
Putri mengangguk.
"Kenapa penasaran?" Alit melanjutkan pertanyaannya.
"Putri suka sama pemiliknya"
Sontak jawaban Putri membuat Alit semakin tak bisa menyembunyikan raut wajah bingungnya.
"Putri gak pernah absen lihat dia ada di rak mushola, setiap pagi jam 9 sampai 10 dan setiap siang jam 12 pas atau jam 1. Dan juga gak pernah lewat dari jam-jam itu"
Seketika Alit mulai bisa mencerna semua ucapan Putri.
"Becaknya udah dateng mas. Putri pamit ya. Ketemu lagi besok" Putri meninggalkan Alit yang kini tak dapat menyembunyikan raut senang di wajahnya. Ia tak pernah mengira ada yang begitu tertarik dengan sepatu lusuh yang dikenakannya ini.
Magelang, 6 Maret 2024
Comments
Post a Comment