Kala Rembulan Mengintip, di Langit Malam yang Sedang Mendung

Air mata tak bisa kubendung dari dua kelopak mata ini. Di bawah temaram lampu halte, aku masih terisak mengingat apa yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu. Tak akan ada lagi romansa di pagi hari, saat akan berangkat kerja. Tak akan ada lagi, senandung senang pelipur letih di saat pulang bekerja. Pada akhirnya, masa depan yang memang sudah terasa tidak ada harapan sejak awal dimulai itu benar-benar menghilang hari ini. Kami memutuskan untuk jalan masing-masing. Tiga puluh menit lalu, aku masih tersenyum. Sejujurnya, ada semacam kelegaan yang entah pantas kurasakan atau tidak. Karena pada akhirnya, kami memilih tetap menyayangi-Nya dan mengorbankan rasa sayang kami terhadap satu sama lain. Tapi suasana sendu di malam usai hujan ini, dengan cahaya lampu halte yang juga terasa lebih redup dibanding hari-hari sebelumnya, membuat perasaan sedih seperti datang menggelendotiku. Pada akhirnya, kelegaan yang kurasakan tidak jauh lebih besar dari kesedihan yang kurasakan. 
"Didengar dari isakannya, kayaknya sedih banget ya"
Aku terperanjat sejenak dari tangisku. Suara yang tiba-tiba muncul tepat di samping kananku, membuatku tak bisa pura-pura tidak terkejut.
"Dari tadi saya nunggu di pojokan situ" ia menunjuk ke arah pojok halte.
"Saya memilih menunggu si mbak sampai selesai menangis. Tapi lama-lama pegel juga kaki saya. Ya sudah, akhirnya saya putuskan buat duduk dan mungkin ngajak mbak ngobrol"
"Kalau tidak keberatan" ia menambahi ucapannya dengan nada sedikit ragu dan kalau aku tidak salah, sedikit sungkan.
"Maaf mas," ucapku, singkat. Bingung harus berucap seperti apa.
Usai balasan ucapanku itu, ada momen dimana kami hanya saling diam. Duduk bersebelahan sembari menunggu angkutan umum yang entah mengapa tak kunjung datang satupun. Meski tangisanku sudah berhenti, aku masih sesekali harus menahan cairan lendir di hidungku. Karena sialnya, aku tak membawa satu pun lembar tisu.
"Saya ada tisu mbak, kalau mau..." ia tidak melanjutkan kata-katanya, dan memilih langsung mengulurkan selembar tisu padaku.
"Makasih mas," lagi-lagi aku hanya membalasnya dengan ucapan singkat. 
Retna, sahabatku pernah berucap kalau aku adalah orang yang paling mahir mematikan obrolan. Katanya, balasan ucapanku yang singkat selalu berhasil membuat suasana canggung tercipta secara alami. Kurasa, aku setuju dengan kalimatnya itu karena suasana yang tengah kuhadapi saat ini. 
Kami kembali terjebak dalam momen saling diam. Selain angkutan umum yang entah mengapa tak kunjung datang, entah mengapa juga sedari tadi tak ada satupun orang yang datang ke halte ini. 
"Kayaknya gak bakal ada angkot atau bus yang lewat lagi mbak. Sudah hampir jam sepuluh. Saya antar saja ya mbak?" 
Seketika aku tak bisa menyembunyikan raut wajah heran.
"Itu motor saya" tangannya menunjuk ke arah dekat pojok halte.
"Mas nggak lagi nunggu angkutan umum?" 
"Tadi saya nggak sengaja lihat mbak sendirian. Kelihatan lagi sedih. Gak tahu deh, tiba-tiba pengen berhentiin motor. Saya niatnya hanya ingin menemani mbak sampai dapat kendaraan, dengan berdiri di pojok situ. Dan seperti yang sudah saya bilang tadi, kaki saya lama-lama pegel juga. Jadi saya akhirnya duduk di sini..." terlihat masih ingin bicara, namun entah mengapa dia memilih mengakhiri ucapannya.
"Ma..kasih mas," lagi-lagi aku hanya membalas dengan ucapan singkat yang kini diucapkan dengan nada canggung.
"Jadi, mau diantar pulang?" 
Melihat jam yang memang sudah semakin larut, sebenarnya membuatku sedikit tergiur dengan tawaran itu. Tapi kewaspadaan dalam diriku seperti menyadarkanku, bahwa sebaik apapun niat seseorang, jika dia adalah orang asing maka sangat mungkin itu hanyalah kedok semata.
"Gak usah mas, makasih. Saya pesan ojek online saja" ucapku dengan kalimat paling panjang yang kuucapkan padanya sejak pertemuan pertama kami tadi.
"Ya sudah, saya tunggu" 
"Gak usah mas, makasih. Tapi gak perlu." Entah mengapa aku menyesali nada ucapanku yang terdengar sedikit ketus atau mungkin sangat ketus.
"Nama saya Akbar. Tempat kerja kita satu gedung. Kita pernah bertemu dalam sebuah rapat. Mbak mungkin tidak pernah melihat saya, tapi saya melihat mbak beberapa kali sejak rapat itu" entah mengapa dia tiba-tiba menjelaskan identitasnya.
"Supaya saya tidak lagi menjadi orang asing buat mbak, saya perkenalkan diri saya ke mbak. Dan supaya mbak tidak perlu waspada ke saya, saya perlihatkan kartu identitas saya ini" dia memberikan ktp nya padaku.
"Gak perlu mas, ini sangat tidak..."
"Saya hanya mau membangun kesan pertama paling baik, untuk pertemuan saya dengan orang yang beberapa minggu ini mengganggu pikiran saya"
Seketika aku terdiam, berusaha mencerna ucapan darinya yang tidak sengaja kutemui di hari yang mungkin akan jadi salah satu paling buruk dalam hidupku. 

Magelang, 23 Mei 2024

Comments

Popular Posts