Bincang Manis di Sore Itu

Sebagai seseorang yang sangat introvert, bertemu orang baru adalah hal yang paling dihindari Gemala dalam hidupnya. Ia selalu merasa canggung, beberapa bahkan terasa sangat tak nyaman. Namun naas, ia justru terjebak di pekerjaan yang mengharuskannya banyak berinteraksi dengan orang baru. Alhasil, Gemala akan langsung kehilangan seluruh energinya usai ia selesai bekerja. Dan tampaknya, hujan rintik di sore ini sedikit mengobati rasa lelah Gemala. Ia yang biasanya sepulang bekerja ingin cepat-cepat menyendiri di kamar kosnya, sore ini menyempatkan untuk menyeruput segelas kopi panas dan menikmati satu hingga dua pisang goreng hangat di sebuah warung kopi dekat kantornya. Mengamati sibuknya bumi dan isinya bekerja, ternyata cukup menyenangkan, pikir Gemala. Di seberang jalan, Gemala melihat dengan raut iba pada sosok bapak tukang becak yang tengah bersusah payah menutup bagian depan becaknya agar sang penumpang di dalamnya terlindung dari rintik hujan. Gemala menghela nafas, tanpa bapak itu mungkin sadari, dirinya telah basah kuyup terguyur air hujan. Mantel plastik yang dikenakannya, nyatanya tak cukup bisa menahan terjangan rintik hujan. Bapak itu lantas menerima upah untuk setiap kayuhan becaknya. "Hah?? hanya 35 ribu??!" Reflek ucapan itu keluar dari mulut Gemala. Tak jauh dari tempat bapak becak itu, Gemala pun melihat ada segerombolan anak kecil yang juga tak kalah basah kuyup, terus sibuk bolak-balik menyeberangi jalan untuk menawarkan ojek payung. "Sudah kutebak, hanya dapat 5 ribu" lagi-lagi Gemala berucap, entah pada siapa. Sedangkan di tempat Gemala tengah menikmati kopi, ia juga mengamati bagaimana ada sejumlah kelompok pengunjung tengah asik bercengkerama dengan mungkin teman, keluarga, atau bahkan pasangannya. Fokus Gemala akhirnya sepenuhnya tertuju pada sepasang sejoli yang tengah berteduh di sebuah ruko tepat di depan warung kopinya. Sang laki-laki tampak telaten merapikan penampilan sang perempuan yang sedikit berantakan karena terkena hujan. Raut wajahnya, kalau bisa Gemala tebak nampak begitu khawatir pasangannya itu akan kedinginan karena hujan. Raut wajah dan perilaku si perempuan juga tidak kalah manis. Ia berusaha membantu merapikan rambut si pria sambil mulutnya berucap. "Kamu juga basah kuyup, lho" begitu mungkin kira-kira ucapannya. Untuk yang satu ini, Gemala hanya mengarang saja. Pasangan yang tengah meneduh itu, kini tampak tengah mendiskusikan sesuatu. Hingga Gemala tebak diskusi itu memunculkan keputusan bahwa mereka akan menghangatkan diri di warung kopi yang tengah Gemala kunjungi ini. Terlalu fokus memperhatikan, Gemala tak menyadari bahwa gerak-geriknya disadari oleh si objek. Secara tiba-tiba saja pasangan itu sudah berada sangat dekat dengan Gemala. Gemala lantas tersenyum malu usai terciduk sedang mengamati mereka. "Ikut duduk bareng ya neng. Meja lainnya sudah penuh" ucapan itu ditujukan oleh si laki-laki pada Gemala. "Silahkan," Gemala menjawab dengan nada canggung. Masih sedikit malu. "Harusnya tadi bawa payung dua ya neng" kini si laki-laki yang berucap, ditujukan untuk si perempuan. "Gak papa kang, malah jadi keliatan romantis. Sepayung berdua" 
Gemala tak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya. Ucapan yang mungkin terdengar menggelikan itu rasanya juga terdengar manis untuk Gemala. 
"Hmm, pisang gorengnya enak banget neng. Cobain deh" 
"Lebih enak yang di piring ini. Lebih kerasa manis" ucapan itu juga reflek keluar begitu saja dari mulut Gemala.
"Wah apa iya neng?" si laki-laki menanggapi ucapan Gemala dengan nada antusias. Ia lantas tak ragu mengambil pisang gireng dari piring yang Gemala maksud dan menyuapkannya pada si perempuan. 
"Bener kang. Ini manis sekali pisangnya. Dimakan pas lagi panas, wah pasti makin enak ini" raut wajah si perempuan tampak dipenuhi binar senang usai mencicip pisang rekomendasi Gemala.
"Nanti aku coba gorengin yang sama kayak gini ya di rumah" si laki-laki berucap kembali sambil masih menyuapi si perempuan.
"Kang, bilangin dong ke si neng. Kalau eneng mau kenalan. Boleh?" 
"Tuh neng, mau gak diajak kenalan istri saya?" 
"Mau. Saya Gemala. Panggil Mala saja" kini nada bicara Gemala tampak lebih santai. Gemala rasa, ia sudah merasa nyaman dengan orang baru di depannya ini. 
"Cantik sekali namanya. Pasti orangnya juga cantik ya kang" 
Ucapan si perempuan tidak lekas mendapat balasan dari si laki-laki. Situasi itu entah mengapa terasa lucu bagi Gemala. 
"Kang??" si perempuan kembali berucap.
"Iya cantik neng. Kayak si eneng waktu usia 20 an"
"Wah kalau gitu, sudah pasti valid cantiknya" si perempuan kembali berucap.
"Terima kasih. Teteh juga sekarang kelihatan cantik" Gemala membalas pujian itu dengan tulus.
"Neng harus lihat muka istri saya kalau habis bangun tidur. Cantik bangett"
Kini sebuah tawa renyah keluar begitu saja dari mulut Gemala.
"Pas habis wudhu juga, masyaAllah sekali. Bidadari surga deh"
Lagi-lagi Gemala reflek tertawa. Kini tawanya bahkan terdengar sangat lepas.
Gemala akhirnya terlibat obrolan hangat dengan pasangan itu cukup lama. Mungkin ada sekitar 30 menit. Dan ketika itu juga, Gemala menyadari sesuatu. Itu adalah kali pertamanya ia langsung akrab dan nyaman dengan orang baru. Itu juga merupakan obrolan terlama Gemala. Obrolan yang sama sekali tidak membuat Gemala gelisah atau canggung seperti obrolan-obrolan sebelumnya. Sepanjang obrolan, Gemala merasa sangat nyaman mendengar antusiasme pasangan ini yang saling menceritakan keindahan satu sama lain. Semua pujian itu bahkan terdengar sangat luwes keluar dari mulut satu sama lain. Tampak betapa seringnya mereka menceritakan hal itu. Seperti ingin seluruh dunia tau, bahwa mereka memang diciptakan untuk saling membersamai satu sama lain. 
Siapa sangka, orang yang akhirnya membuat Gemala nyaman justru ditemuinya di tempat dan keadaan yang tidak terduga. 
Melihat hujan akhirnya benar-benar reda, Gemala rasa ia harus segera berpisah dengan pasangan yang kini ia kenal bernama Handoyo dan Tari ini. 
"Saya pamit ya a', teh" ucap Gemala. 
"Nanti semoga kita bisa bertemu lagi ya neng. Dalam kondisi saya sudah bisa melihat. Supaya saya bisa melihat mata neng Mala, yang kata suami saya indah seperti punya saya ini"
Dari obrolan tadi, Tari dan Handoyo bercerita pada Gemala bahwa mereka baru saja berkunjung ke rumah sakit. Tari yang telah kehilangan penglihatannya sejak puluhan tahun lalu itu, akhirnya mendapat kabar bahagia. Sepasang donor mata akhirnya ia dapatkan. Namun Tari juga bercerita, ia merasa tak pantas begitu senang. Karena kebahagiaan yang kelak akan ia dapatkan ini, merupakan kesedihan bagi orang lain yang menjadi donornya. 
"Pasti teh. Nanti saya akan berkunjung" ucap Gemala sembari menggenggam tangan Tari. 
"Terima kasih ya, atas bincang-bincang manisnya" ucap Gemala lagi, dengan nada sangat tulus. dalam hati, Gemala lanjut berucap "Terima kasih, sudah menjadi teman pertama saya". Karena begitulah yang dirasakan oleh Gemala. 

Comments

Popular Posts