Tak Sempat Tersinggahi

Suatu hari di tahun 2010.
Sejak hari Sabtu malam di minggu lalu, aku memiliki kesukaan baru. Sudah sejak pukul enam sore, aku tak sabar untuk datang ke alun-alun. Otakku tak berhenti berpikir penuh antusias, cerita apakah yang kali ini dapat kudengar dan saksikan. Tepat pukul delapan malam, aku sampai di alun-alun yang seperti di malam-malam weekend biasanya, ramai dipenuhi orang. Namun bukan keramaian itu yang kucari. Tapi dia, yang kucari. Mataku tak bisa menyembunyikan binar bahagia, melihat panggung yang sama dengan yang kusaksikan di minggu lalu.
Layar besar di panggung telah menyala, tanda bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Dari balik layar besar, aku kembali melihat bayangannya. Dia yang telah siap dengan dua benda di kedua tangannya yang akan jadi tokoh di ceritanya kali ini.
Sepanjang pertunjukan, mataku tak sedikitpun berpaling dari layar. Kusimak dengan seksama dan penuh antusias, alur dari cerita yang dibawakannya kali ini. Hingga dua jam tak terasa, telah berlalu. Pertunjukan akhirnya usai. Seruan tepuk tangan dariku terdengar paling keras. Aku bahkan sampai beranjak dari dudukku dan terus bersorak riuh, menunjukkan betapa aku bahagia dengan pertunjukan wayang yang baru kusaksikan ini. 
Sepanjang berjalan menuju tempat aku memarkir sepeda motorku, aku terus menggumamkan lantunan sebait lagu yang tadi kudengar dari pertunjukannya.  
"Ternyata begini yaa rasanya punya penggemar"
Saking asiknya bersenandung, aku tak menyadari kehadirannya yang kini telah menyamai langkah kakiku.
"Deraaass...bagus sekali tadi ceritanyaa. Aku suka sekali dengan bagian ketika sang raja pada akhirnya terkena akibat dari perbuatannya yang semena-mena..." kuceritakan dengan penuh antusias mengenai pertunjukannya.
"Terima kasih, Widuri" 
Setiap mendengar suaranya kala memanggil namaku, hatiku seketika berdesir hingga terasa seperti hendak meledak berhamburan saking senangnya. 
"Oh ya, tokoh mbok rondonya jadi yang paling favoritku di pertunjukan malam ini. Cerewet dan lucu" adegan berlanjut dengan aku yang penuh antusias membahas pertunjukannya.
"Seperti kamu kan, Widuri"
Manis sekali mulut Deras ini, pikirku dalam hati.
"Karena sudah jadi penggemar beratku, mari aku traktir kopi klotok ternikmat di alun-alun ini"
"Dengan senang hati" aku mengiyakan ajakan Deras dengan segera. Lalu ditutup dengan dia yang akan mentraktirku makan gorengan dan sate-satean atau sekedar minum segelas kopi di angkringan.

Suatu hari di tahun 2015.
"Mau jadi pacarku gak?" 
Lima tahun dekat, kalimat yang teramat sangat kunanti itu akhirnya bisa aku dengar dari mulut Deras. Tentu tanpa banyak berpikir, aku mengangguk mengiyakan. Statusku akhirnya naik kasta, dari penggemar lalu jadi teman, dan jadi pasangan. Belum selamanya, tapi semoga menjadi awal untuk ke sana.
"Tapi aku tidak mau yang main-main. Aku ingin menjalin hubungan yang sampai pada pernikahan"
"Kalau begitu kenapa tidak langsung diwujudkan saja. Toh kita sudah kenal lima tahun. Bukan waktu yang sebentar kan" 
Bukan hanya Deras yang terkejut, aku pun terkejut dengan apa yang baru saja keluar begitu lugasnya dari mulutku. 
"Maksudku..."
"Memang kamu sudah siap?" 

Suatu hari di tahun 2017.
"Tidak sama bunga tulipnya mbak? biasanya minta dibungkuskan sekalian" 
Yang berucap barusan adalah Lily, florist di toko bunga langgananku selama satu tahun belakangan ini.
"Lagi pengen coba bunga lain nih, Ly" begitu ucapku.
Lily pun tidak bertanya lagi dan langsung memberikan pesanan bungaku yang lantas kubalas dengan ucapan terima kasih.
"Salam untuk Mas Deras ya mbak" 
"Pasti..." ucapku sembari pamit pergi.

Suatu hari di tahun 2016.
"Tahun depan, kamu bersama aku sudah bisa tinggal di sini Ri" 
Raut antusias terpancar dari wajah Deras. Sejak akhirnya kami benar-benar menjadi sepasang suami istri kala itu, Deras langsung membangunkan rumah untukku. Begitu katanya. 
"Terima kasih, ya. Untuk segala yang selalu kamu usahakan untukku" ucapan tulusku yang dibarengi dengan tetesan air mata. 
Aku sangat tahu apa saja yang sudah Deras korbankan demi terwujudnya rumah ini dengan segera. Dan tentu, itu berhasil membuatku menjadi sangat melankolis begitu akhirnya bisa melihat bangunan kokoh itu benar-benar berdiri saat ini. Deras memelukku, menenangkanku, memberikan rasa nyaman.
"Habis ini kita jadi ya, adopsi si Jago. Aku juga udah siapin rumah buat dia"
Jago yang disebut oleh Deras adalah kucing yang memang sejak lama sudah kami impikan akan kami bawa tinggal bersama di rumah ini. Terbayang dengan sangat indah kehidupan kami setelah ini. Mungkin tak hanya Jago saja yang bisa kami rencanakan untuk turut tinggal bersama. Mungkin seorang putri cantik, yang memang juga telah kami idamkan, untuk kelak bisa menjadi anak pertama kami.

Masih suatu hari lainnya di tahun 2016.
Dari sekian banyaknya skenario yang kubayangkan akan kulakukan bersama Deras, ini bukanlah salah satunya. Saat tiba-tiba harus mendampinginya yang tak sadarkan diri dan tampil begitu mengerikan dengan noda merah di hampir sekujur tubuh. Diselimuti dinginnya udara dingin nan mencekam, pandanganku terus menatap tajam ke arah pintu di ujung lorong yang seluruhnya didominasi warna putih ini. Di satu sisi, aku ingin orang-orang di dalamnya lekas keluar. Namun di sisi lainnya, aku begitu takut karenanya. Entah kabar apa yang akan kuterima dari mereka. Hingga akhirnya kabar itu terdengar begitu jelas, di telingaku.
"Maafkan kami ibu..." tak perlu rasanya kulanjutkan, menceritakan apa yang kudengar malam itu.

Suatu hari di tahun 2017.
"Aku ke sini lagi, Deras. Menyuap kamu, agar mau datang ke mimpiku" di depan nisanmu, kuajak kamu berbicara. Berharap didengar.
"Kalau-kalau kamu enggan datang karena bosan dengan bunga tulip yang kubawakan. Kubawakan jenis bunga lainnya. Tidak kalah indah kok"
Ada jeda sejenak,
"Tolong temui aku. Aku benar-benar rindu kamu, Deras"
Nyatanya, hitungan tahun tak lantas membuatku tegar. Aku tetap menangis. 
"Kamu harus tahu kalau aku sedang sedih karena kamu ya. Jadi tolong datang, kalau gak mau lihat aku nangis lagi"
"Aku pamit ya, mau singgah sejenak ke rumah kita. Kalau-kalau kamu penasaran, rumahnya sudah benar-benar jadi sekarang. Lengkap dengan si Jago di dalamnya"
Deras, rasanya aneh sekali. Harus ke sini lagi. Tanpa bersama kamu, untuk pertama kalinya. 

Comments

Popular Posts