Dua Puluh Ribu Teristimewa

Tidak ada yang lebih kusuka, dari suara derit pintu rumahku pukul 9 hingga 10 malam. Sepelan apapun suaranya, pasti tak pernah gagal membangunkanku yang kerap tertidur di bangku kayu yang terletak berdekatan dengan pintu. 
"Bapaaaak, mamaaaak!!!" kata yang tak pernah berubah kuucapkan disetiap derit pintu yang kudengar setiap malam. Tentunya lengkap dengan wajah penuh senyum. Kantukku pun seketika hilang saat itu juga.
"Mbak Tari kok belum tidur?"
"Nungguin sisaan nihh" ujarku menanggapi ucapan mamak dengan nada canda.
"Yahh, mbaknya kurang beruntung nih. Sudah habiss ludess" Bapak memamerkan dandang baksonya lengkap dengan senyum sumringahnya.
"Yeay!! Alhamdulillah" ujarku.
Dua sejoli ini selalu berkeliling hampir seharian penuh, dengan formasi bapak mendorong gerobaknya dan mamak meracik baksonya jika ada pembeli. Raut lelah dan letih pasti tetap nampak sekali terlihat pada wajah senja keduanya, namun lebih terlihat raut wajah syukur. Apalagi jika bapak langsung membawa masuk dandang ke dalam rumah dengan tanpa usaha yang berarti, yang artinya bakso dari gerobak yang didorongnya ludes habis, seperti malam ini.
Aku lantas berlalu ke dapur, bersiap menyajikan sepiring pisang goreng yang sayangnya sudah tidak panas, tapi masih hangat. Pisang goreng yang sengaja kugoreng untuk Bapak dan Mamak usai sholat maghrib tadi. Sepiring pisang goreng itu lengkap kusajikan dengan segelas kopi untuk bapak dan segelas teh untuk mamak.
"Hadiah dari anak bapak mamak yang paling cantik" ujarku penuh rasa bangga memamerkannya.
"Waahhh, pasti enak sekali. Terima kasih ya cah ayuuu" bapak kembali berucap dengan tangan yang langsung mengambil satu pisang goreng buatanku.
Malam itu, berakhir dengan aku bersama-sama bapak dan mamak mengobrolkan ini itu sembari menikmati pisang goreng. Meski telah berkeliling seharian, kata bapak capeknya langsung hilang karena pisang gorengku. Kalau kata mamak, pisang gorengnya enak, tapi kurang sedikit kental tepungnya, jadinya tidak bisa terlalu menempel ke pisangnya. 
Obrolan kami ditutup dengan bersama-sama menghitung uang recehan yang didapatkan bapak dan mamak hari ini. Dan seperti biasa, aku selalu diberi jatah dua puluh ribu. Dua puluh ribu hari ini, terdiri dari uang dua ribuan berjumlah sepuluh lembar dan dua lembar uang lima ribuan. 
Kalau kalian mengira itu adalah uang jajanku, bukan ya. Bapak dan mamak selalu mengusahakan untuk rutin memberiku uang jajan seratus ribu di setiap bulannya. Aku menyebutnya sebagai dua puluh ribu teristimewa. 
"Terima kasih, bapak mamak" ucapku seperti hari-hari biasanya. 
Kisah dua puluh ribu ini berawal saat bapak akhirnya memutuskan berdagang bakso usai terkena PHK. Kala itu, aku masih ingat sekali, bakso bapak hanya laku lima mangkuk saja setelah jalan berpuluh-puluh kilometer. Saat sampai rumah, aku yang kala itu masih duduk di bangku SMP sangat ingin menghibur bapak dan tentu mamak yang juga akhirnya memutuskan ikut untuk membantu bapak berdagang bakso. Dan aku ingat, di pelajaran PAI yang baru kupelajari pada pagi harinya saat aku bersekolah, doa adalah kekuatan tak tertandingi. Tercetuklah kalimat, "Ya Allah, semoga besok Engkau beri bakso bapak laku 15 mangkuk lebih banyak dari hari ini. Tidak perlu sampai 50 mangkuk, cukup 15 saja. Tapi kalau 50 alhamdulillah sekali"
"Amiinn" doa spontan itu pun juga dijawab spontan oleh bapak. 
Usai balasan amin itu, bapak lantas memberiku dua puluh ribu dan lima puluh ribu yang didapatkannya. Katanya, "Bapak mau investasi didoain dong setiap harinya" 
Dan bocah SMP itu dengan senang hati menerimanya. Tak peduli, itu membuat uang orangtuanya hanya tersisa sedikit. Hingga saat aku mulai mengerti, aku berusaha menolak uang dua puluh ribu dari bapak. Aku enggan, karena nyatanya sudah tak serutin itu memanjatkan doa untuk dagangan bapak. Terkadang kalau sudah terlalu lelah dengan kegiatan sekolah, doa yang diminta bapak itu pun terlupa.
Dan seberapa kekeuhnya aku menolak, bapak juga tetap berpegang teguh memberiku jatah dua puluh ribu itu. Hingga akhirnya, doa yang berusaha kupanjatkan lebih rutin dan ucapan terima kasihlah yang bisa kujadikan balasan untuk dua puluh ribu teristimewa ini.
"Doanya kali ini aku upgrade pak" ucapku pada bapak di suatu malam saat aku menyambutnya pulang berdagang.
"Aku ikut sebutin, semoga bakso bapak mamak lekas punya rumah tetap. Gak perlu berkeliling dan baru pulang kalau sudah habis" 
"Amiiin amiinn!!!" bapak membalas ucapanku dengan teriakan super kencang. 
"Aminnn ya mbak" mamak yang biasanya lebih acuh dan menyibukkan diri untuk membereskan dagangan, kini turut memberikan amin untuk doaku.
Yang tidak aku ketahui, amin kala itu sepertinya sangat sungguh-sungguh terucap dari mulut bapak, begitupun dengan mamak. Bukan amin spontan atau amin seperti hari-hari biasanya. Karena hari itu dan beberapa hari sebelumnya, dandang itu terasa sangat berat untuk diangkat ke dalam. Dagangan bakso bapak dan mamak, hampir tidak terjual lebih dari setengahnya. 
Yang tidak aku ketahui juga, itu adalah malam terakhir aku bisa memanjatkan doa untuk bakso bapak dan mamak. Gerobak bakso bapak dan mamak akhirnya beristirahat permanen, sebelum sempat memiliki rumah tetap yang kupanjatkan dalam doa, bersama dua pemiliknya. Hujan deras hari itu bersama tragedinya, membawa pergi dua pemberi dua puluh ribu istimewaku.

Comments

Popular Posts