Tawa Kumba yang Hilang

Alkisah, sudah sejak sebulan lalu Kumba kehilangan tawa di wajahnya. Bukan karena tidak ingin, tapi karena memang Kumba tidak lagi bisa tertawa. Saat menonton pertunjukan topeng monyet bersama teman-temannya, Kumba ingin sekali tertawa. Tapi tidak bisa. Saat mendengar ucapan terbata-bata dari Pak Jaka si penjual mainan di sekolahnya yang begitu semangat menjajakan mainan-mainannya, dan memang selalu terdengar lucu, Kumba pun ingin tertawa. Tapi lagi lagi, tidak bisa. Bahkan sesederhana menertawakan lelucon temannya, Kumba pun tidak bisa. 
Sejak sebulan lalu, Kumba dipaksa menjadi anak yang harus selalu murung. Hingga akhirnya, Kumba benar-benar berubah menjadi si pemurung. Ia pun juga mulai menarik diri dari teman-temannya.
"Kenapa nak?" 
"Kumba rindu suara tawa Kumba, bu" keluh kesah yang selama ini terpendam, pecah seketika diikuti tangisan tiada henti.
"Kenapa... hiks...Kumba...tiba-tiba...hiks...ti...dak...bisa...tertawa, bu" dengan suara tersenggal-senggal, Kumba kembali menumpahkan kesedihannya pada sang ibu.
"Malangnya, anak ibu" Ibu mengusap lembut kepala Kumba, berusaha menenangkan putra kecilnya itu.
"Tapi apapun yang terjadi di hidup Kumba saat ini, jangan lupa untuk selalu berbuat baik ya nak" pesan yang tak pernah lupa Ibu ucapkan pada Kumba, disetiap pertemua mereka. 
"Kum, nanti malam ikut ke pasar malam kan? Melihat sirkus gajahnya" ajakan itu datang dari Jali, teman sebangku Kumba.
Kumba seketika membayangkan, betapa menyenangkannya melihat segala kelucuan tingkah ajaib si gajah. Tapi, "enggak deh, PR ku buat besok belum selesai soalnya". Kumba menolak dengan penuh paksaan. Ia enggan menangis lagi, disaat teman-temannya tertawa gembira.
Itulah keadaan Kumba saat ini. Saat melihat sesuatu yang lucu, alih-alih tertawa, Kumba justru akan menangis. Semakin kencang ia ingin tertawa, maka semakin kencang pula tangis yang keluar.
"Teman-teman Kumba malam ini pasti sedang bersenang-senang melihat sirkus gajah, bu" Kumba kembali berkeluh kesah pada ibunya.
"Kumba kenapa tidak ikut kalau penasaran?" 
"Kan Kumba tidak bisa tertawa, mana pantas menonton pertunjukan sirkus. Yang ada, malah merusak suasana" nada yang terdengar sedikit dibarengi amarah itu seperti ungkapan frustasi Kumba pada keadaannya.
"Tidak apa-apa, lain kali kan masih ada. Yuk, redakan amarahmu nak. Dan, jangan lupa untuk tetap dan selalu berbuat baik ya" 
Hari-hari terus berlalu. Tawa Kumba tak juga kunjung kembali. Hari demi hari, perasaan Kumba semakin dipenuhi kesedihan.
"Cucu kesayangan simbah," 
Suara itu, "mbah utii" Kumba seketika menghambur ke pelukan neneknya. Setelah sekian lama, Kumba akhirnya bisa melihat nenek kesayangannya itu.
"Kenapa baru datang?? Kumba kangen sekalii" 
Simbah hanya dapat tersenyum penuh kehangatan, menanggapi rengekan manja cucunya. 
"Maafkan simbah ya Le. Bagaimana kabarmu? Masih jadi anak ceria seperti yang simbah kenal dulu kan?" 
"Sudah tidak mbah. Kumba yang sekarang payah. Pengecut!" lagi-lagi ucapan Kumba terdengar ada amarah di dalamnya. Raut wajah murung terbingkai jelas di wajah Kumba. 
"Ndak ada manusia yang payah Le. Temani simbah jalan-jalan yuk" 
Di waktu jalan-jalan bersama sang nenek, Kumba melihat di lapangan desanya masih ada pertunjukan sirkus gajah yang pernah disebut oleh Jali. 
"Berhenti sebentar ya Le, simbah capek" Simbah mengajak Kumba duduk, tepat di dekat pertunjukan sirkus gajah itu berlangsung. Mau tidak mau, Kumba harus melihatnya.
"Kumba, tolong aku..." sebuah suara rintihan yang entah datang dari mana, tiba-tiba tertangkap telinga Kumba.
"Mbah uti dengar gak?"
"Aku di sini, Kumba" Suara rintihan itu kembali terdengar. Kumba pun berusaha mencari sumbernya.
"Di sini..." tanpa disangka-sangka, suara itu ternyata datang dari arah pertunjukan sirkus gajah.
Tidak mungkin gajah itu kan, "benar Kumba, ini aku" suara itu kembali terdengar, seperti menjawab rasa penasaran Kumba. 
Saat Kumba kembali memfokuskan diri pada pertunjukan sirkus gajah itu, betapa terkejutnya dia. Pasalnya, tak ada lagi pemandangan lucunya pertunjukan seperti yang beberapa saat lalu ia lihat. Yang ia lihat, raut letih dari si gajah dan juga tawa tak peduli dari para penonton. Sesekali, pria yang memimpin jalannya pertunjukan sirkus bahkan memukulkan sesuatu yang kemudian membuat si gajah mengeluarkan suara rintih kesakitan. 
"Heii, berhentii. Tidakkah kalian lihat? Dia tidak senang" Kumba reflek berteriak, berusaha membantu si gajah. Namun suaranya seperti terabaikan. Sama seperti ketidaksenangan gajah, saat harus melakukan pertunjukan sirkus ini.
"Berhentiii!!!" Kumba terus berteriak. 
Di tengah teriakannya, ia tiba-tiba diperlihatkan hal lainnya. Di hadapan Kumba saat ini, terlihat sosok Pak Jaka yang sedang menjajakan mainan-mainan dagangannya. Di tengah sibuknya pak Jaka, ada teman-teman sekolah Kumba yang tampak terus tertawa lepas. Entah apa yang ditertawakannya. Dan itu membuat Kumba kesal. Karena entah bagaimana caranya, namun nafas Pak Jaka amat terdengar jelas di telinga Kumba. Terdengar tersenggal-senggal, dan tampak begitu kelelahan. "Lucukah ini bagi kalian??!!" Kumba berusaha menghentikan tawa lepas teman-temannya. 
Namun lagi-lagi, belum sempat Kumba berhasil menghentikannya, pemandangan yang dilihatnya kembali berubah. 
"Lucukan Mba? Kamu harusnya lihat sih bagaimana si Bimo pas tiba-tiba celananya melorot di lapangan" ucapan dari Tio, teman sekelas Kumba disambut gelak tawa dari seluruh isi kelas. Di sisi lain, Kumba melihat Bimo, si topik pembicaraan yang tengah terdiam di sudut ruangan. Sepertinya, Bimo tak menganggap kejadian yang menimpanya adalah sebuah peristiwa lucu. 
Kumba menghela nafas panjang, "Aku tidak suka suara tawa" 
"Kenapa Le?" suara simbah, tiba-tiba terdengar kembali tepat di telinga Kumba.
"Karena itu terdengar dari hal-hal yang seharusnya tidak patut ditertawakan, mbah" Kumba kembali berucap dengan nada lesu. 
"Akhirnya kamu paham juga Le" 
Ucapan lembut simbah, seketika membuat Kumba bingung.
"Terkadang apa yang biasa saja di mata manusia, akan terlihat jauh berbeda dari kacamata Tuhan, Le" 
Belum sempat Kumba memahami sepenuhnya ucapan sang nenek, ia sudah harus kembali ditinggal pergi. Digantikan oleh suara lainnya.
"Nak, ini ibu. Mulai sekarang, jangan lagi lupakan pesan ibu ya. Terus berbuat baik, pada apapun itu" 
Ucapan lembut ibunya, seperti menampar lubuk hati kumba. Selama ini, Kumba terlalu banyak menertawakan kemalangan orang lain dan mungkin juga makhluk lainnya. Kumba terlalu ingin menjadi ceria, demi menyenangkan sang nenek hingga ia abaikan pesan sang ibu.
"Nak, tertawalah sesuka hati Kumba. Tapi, jangan menertawakan sesuka hati"
Tangis Kumba pecah di pelukan sang ibu. 
"Baik bu, Kumba minta maaf" 
Sejak saat itu, Kumba tidak lagi menjadi si pemurung. Entah kapan tepatnya, tapi Kumba akhirnya kembali mendapatkan suara tawanya. Baru-baru ini, Kumba tertawa lepas saat melihat panggung komedi pertunjukan wayang, yang digelar di dekat rumahnya. Tidak hanya itu, Kumba juga puas tertawa untuk banyak hal lucu, yang tentu saja memang pantas untuk ditertawakan. 
"Terima kasih ya bu, mbah. Lain kali, datang lebih sering lagi ya ke mimpi Kumba" 

Comments

Popular Posts