Semangkuk Makanan Hangat

"Kakaaakk" suara teriakan yang seketika langsung kukenali, meski terdengar samar di riuhnya stadion.
"Jani menang kaakk" sembari menunjukkan sebuah medali emas.
Dia adalah adikku satu-satunya, Anjani. Hari ini, mungkin menjadi salah satu hari terpenting dalam perjalanannya sebagai atlet renang. Dengan keberhasilannya mendapatkan medali emas, maka membuatnya otomatis terpilih sebagai anggota tim nasional Indonesia. 
"Yeaay!! selamat yaaa sayang" ucapku tulus, sembari menberikan pelukan erat.
"Ayo cepat pulang kak. Jani gak sabar mau pamer ke bapak" Anjani menarik tanganku dengan tidak sabar. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya ia ceritakan tentang perlombaan yang membawanya keluar sebagai pemenang. 
"Assalamualaikum, bapaakk" Anjani dengan nada manja khasnya, spesial hanya ditunjukkan untuk bapak. 
"Lihaatt, Jani bawa harta karun" ucapnya lagi.
Meski hanya terbaring di kasur, terlihat bagaimana raut wajah bapak yang tampak menunjukkan perasaan bahagia, dan tentu saja bangga untuk Anjani. 
Namun fokusku menjadi pengamat momen bahagia itu tidak berlangsung lama, saat kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Aku lekas ke dapur, menghangatkan makanan yang sudah kumasak sebelumnya sembari bersiap-siap. 
"Dek, jangan lupa. Kakak pergi sekarang ya" ucapku kepada Anjani, sembari menunjuk ke arah kompor. 
"Siap kak. Kakak hati-hati yaa" 
Aku membalas ucapan Anjani dengan lambaian tangan. 
Menembus dinginnya malam, aku langsung menuju ke stasiun yang letaknya memang tidak jauh dari rumah. Memanfaatkan perjalanan yang cukup lama, kuhabiskan dengan tidur. Dan ternyata, cukup lama itu terasa hanya sekian menit saja. Aku terbangun tepat lima menit sebelum kereta mengantarku ke pabrik tempatku bekerja. 
Dek jangan lupa sebelum tidur, bantu bapak minum obatnya ya. 
Sebuah pesan singkat kukirimkan pada Anjani. Takut jika dia lupa. 
"Juniii, aku tadi lihat berita adekmu. Kerennyaa. Selamat yaa" suara itu datang dari Luna, rekan kerja yang paling akrab denganku.
"Iya dong, adiknya siapa dulu" kubalas dengan nada bangga. 
Namun obrolan kami tidak bisa berlanjut lebih lama lagi. Kami harus bergegas, jika tidak ingin mendapat teguran. Begitulah aturan di lingkungan tempat kami bekerja ini. Waktu adalah segalanya. Selalu diburu target dan dilarang keras bersantai-santai. 
Ini adalah tahun kelimaku bekerja di pabrik ini. Dari pabrik inilah, aku bisa membawa adikku meraih mimpinya. Dan juga, membuat bapak tetap bertahan hingga sekarang.
Usai bekerja sekitar empat jam, aku akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhku. Perutku yang sayangnya tadi sore tidak sempat diisi makanan, seperti memberikan protes seketika. Aku langsung membuka kotak bekal yang tadi kubawa dari rumah. 
"Haaah" suara menikmati yang reflek keluar dari mulutku, usai sesuap nasi dan kawan-kawannya mendarat di mulutku. Disusul suapan demi suapan, hingga ludes tak tersisa. 
Kakak, Jani mau dibelikan bubur kacang hijau dong kalau pulang.
Pesan itu datang dari Anjani, tepat setelah aku menyelesaikan shiftku. Bubur kacang hijau kesukaan Anjani yang memang kerap ia titip untuk kubelikan. 
Oke dek, balasku singkat. 
"Pak, biasa ya. Bungkus tiga" ujarku pada bapak penjual bubur kacang hijau yang sepertinya sudah sangat familiar denganku. 
Kumasukkan tiga porsi bubur kacang hijau yang baru saja kubeli ke tas bekalku, agar tetap hangat.
Usai sampai rumah, aku langsung menyerahkan pesanan Anjani agar bisa dinikmati selagi masih hangat. Sedangkan aku sendiri, memutuskan untuk langsung mengistirahatkan diri di kamar. Lagi-lagi, berusaha memanfaatkan waktu senggang untuk tidur. Karena selang beberapa jam lagi, harus membantu bapak membersihkan diri. 
Kira-kira seperti itulah rutinitasku sehari-hari. Untuk hari-hari tertentu seperti hari ini, biasanya akan ada tambahan menonton dan menjemput Renjani di perlombaan. 
[Beberapa tahun kemudian]
"Kakaaakkk" suara teriakan yang masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Dan juga masih dengan sebuah medali emasnya. 
"Jani berhasil kaak" Kali ini, adikku itu berhasil membawa pulang medali dari sebuah event olahraga terbesar se-Asia.
Aku tersenyum, sembari melentangkan kedua tangan. Bersiap menerima pelukan hangat Anjani. 
"Perlihatkan ke bapak dan ibu ya dek" ucapku lirih.
Setelah berusaha mempertahankan bapak, beliau akhirnya pergi menyusul ibu, beberapa bulan lalu. Bapak pergi, tanpa sempat melihat medali emas terbesar dari Anjani ini. 
"Jani siapkan sesuatu untuk kakak. Tunggu di sini ya" Anjani beranjak ke dapur, meninggalkanku di ruang tamu. 
Selang beberapa menit, aroma sedap tercium. Anjani kembali menghampiriku dengan semangkuk sup ayam yang masih sangat hangat.  
"Sup ayam kesukaan kakak" 
"Wah, terima kasih" 
Kalimat Anjani, sedikit membekas di benakku. Ah, benarkah selama ini sup ayam adalah makanan kesukaanku? Lalu sedikit mulai kuingat, dimana kala itu rasanya aku memang cukup sering memasak sup ayam dibanding makanan lainnya. Kala itu prioritas memasakku, adalah yang bisa dinikmati oleh Bapak, dan bergizi tinggi untuk Anjani. Tapi juga tidak repot untuk dibuat. Dan mungkin karena itulah, membuatku secara tidak sadar mulai begitu bersahabat dengan sup ayam. Dan mungkin menjadi lebih menyukainya dibanding makanan lain.
"Emm, enak banget ini dek" ucapan itu reflek saja keluar dari mulutku. Padahal aku hanya baru menyeruput kuahnya, dan itu baru satu suap saja. 
"Kamu pakai resep apa ini? Kok enak banget ya" aku kembali berucap sembari berusaha meresapi apa yang kira-kira membuat sup buatan Anjani ini terasa begitu lezat.
"Pakai resep yang kakak pernah ajarin ke Jani kok" ucap adikku santai. Beberapa tahun lalu, usai kejadian itu, akhirnya membuatku terpaksa harus mengajari Anjani memasak. 
"Tapi ini enak banget dek. Apalagi kuahnya" ucapku tanpa ada unsur sengaja dilebih-lebihkan, demi untuk menyenangkan adikku itu.
"Ini yang bikin enak kak" Anjani menuntun kedua tanganku untuk memeluk sisi-sisi samping mangkuk sup ayamnya. 
"Supnya dimakan saat masih hangat" 
Aku terdiam, sedikit bingung. 
"Kakak gak pernah kan makan makanan, saat masih hangat? Setiap kakak masak untuk kita, kakak hanya memastikan aku dan bapak bisa menikmatinya ketika masih hangat. Sedangkan kakak, selalu baru bisa menikmatinya di pabrik. Dan itupun sudah dalam keadaan dingin. Lebih tepatnya sengaja didinginkan"
Karena makanan dingin, akan lebih cepat dihabiskan. Begitulah kira-kira yang tertanam di benakku kala itu, hingga akhirnya benar-benar terbiasa dengan makanan dingin.
"Setiap kakak membelikan bubur kacang hijau untuk kita, kakak juga baru akan memakannya setelah buburnya dingin. Karena kakak terlalu lelah untuk memakannya saat baru dibeli. Kakak tidak bisa menyia-nyiakan waktu senggang untuk tidak tidur" ucapan Anjani yang kembali membuatku reflek teringat ke momen-momen itu. 
"Padahal makanan lezat buatan kakak itu, paling enak dimakan saat baru matang dan masih hangat. Bubur kacang hijau yang dibeli kakak, juga paling lezat saat masih hangat " 
Ah, iyakah demikian? Kalau dipikir-pikir, makanan hangat yang begitu diagung-agungkan Anjani itu, ternyata memang terasa begitu asing dengan lidahku.
"Maaf ya kak. Harus menunggu selama ini, untuk bisa menikmati semangkuk makanan hangat ini" mata adikku itu, mulai berkaca-kaca.
"Untuk tidak terburu-buru menghabiskannya. Tidak harus dibantu air minum agar lebih cepat tertelan. Tidak perlu dinomor duakan, demi bisa mendapat waktu tidur lebih lama" kini, mataku yang mulai berkaca-kaca.
"Sekarang, kakak bisa menikmati sup ayam yang katanya enak bangett ini setiap hari. Sampe bosan pokoknyaa" Anjani kembali berucap dengan diiringi tawa ringan. 
"Kakak harus sembuh ya. Jani kan cuma punya kakak sekarang" ucapan yang lebih terdengar seperti permohonan. 
Aku menatap ke arah kedua kakiku, yang sejak tiga tahun lalu kehilangan wujud dan fungsinya. Kecelakaan mengerikan di pabrik kala itu, membuatku mengalami trauma luar biasa yang kadang kala masih menghantui, hingga saat ini. 
Dan dari tragedi itu pula, aku menyadari satu hal. Bahwa untuk pertama kalinya, aku merasa berhak untuk merasa runtuh, seruntuh-runtuhnya. 

Magelang, 2 Juli 2025

Comments

Popular Posts