Lupa Suara Bapak
Pagi pukul tujuh, dan masih hujan. Sungguh kombinasi yang pas sekali untuk kembali menarik selimut. Kulihat, mantelku masih tergantung basah karena kupakai semalam. Belum terlipat rapi di jok motor. Helmku juga masih lembab. Bensinku, sudah menunjukkan saatnya diisi. Dan motorku, belum dipanaskan agar bisa tetap fit untuk diajak beraktivitas hari ini.
"Wulan berangkat dulu ya, Pak. Doakan Wulan pulang tidak kehujanan lagi hari ini" Kusalami tangan bapak sembari meminta doanya. Berharap bisa terkabulkan, mengingat sudah tiga hari berturut-turut harus pulang dalam keadaan basah kuyup. Dan pagi ini bahkan ditambah dengan berangkat dalam keadaan akan basah kuyup.
Seperti biasanya, kepergianku diiringi oleh bapak yang terduduk tenang di kursi teras.
Usai menjalani kehidupan layaknya orang dewasa, aku kembali menghela nafas panjang. "Hujan lagi nih" ucapku kepada diri sendiri. Hari keempat pulang diguyur hujan.
Di tengah perjalanan, kusempatkan untuk mampir ketika melihat penjual kue putu yang tengah berteduh. Dengan suara pemanggilnya yang khas, dia seperti memanggilku untuk mendekat. "Kesukaan bapak nih." Ujarku dalam hati.
Meski terasa ribet karena harus kembali mengenakan mantel yang sudah sangat lembab ini, rasanya aku pulang dengan perasaan lebih senang. Tergambar raut wajah bapak yang selalu begitu bahagia ketika kubawakannya. Kutaruh kue putu ini di jok motor, dan kuselimuti jaketku untuk menjaganya tetap hangat.
Sesampainya di rumah, "Bapaakk. Lihat deh, Wulan bawa apaa" ujarku dengan nada antusias. Masih sangat berantakan usai bersama hujan sepanjang perjalanan. Bapak menoleh. Mungkin senang. Mungkin sudah tak sabar untuk menikmati makanan favorit ibu, yang katanya otomatis jadi favoritnya juga. Atau mungkin bingung. Entahlah.
Sudah beberapa tahun, tapi rasanya masih canggung, pak. Entah kepada siapa ucapan itu kutujukan. Rasa tak terima itu muncul karena aku pulang dengan antusias, sementara rumah menerimanya dengan biasa saja.
"Dimakan ya pak. Wulan, bersih-bersih dulu. Setelah ini, kita nonton acara lawak kesukaan bapak itu"
Dan setiap perasaan tidak senang itu mulai datang, aku memilih kabur. Enggan diingatkan.
Usai mandi dan berganti pakaian tidur, acara lawak itu kunyalakan. Acara lawak yang sebenarnya dari dulu garing menurutku, namun rela kutonton demi bisa tertawa bersama bapak. Setelah kuingat-ingat, sepertinya aku tak pernah benar-benar menontonnya. Aku tertawa karena celotehan bapak, tentang bagian yang baru saja membuatnya terbahak, dengan suara beratnya itu. Intinya, aku selalu bergantung pada bapak untuk benar-benar paham kelucuan di dalamnya. Dan pantas saja, sekarang acaranya bukan hanya terlihat garing, tapi amat membosankan. Karena tempat bergantungku, sudah tidak ada.
Bapak masih diam. Hingga akhirnya terlelap.
Saat tidur, wajah bapak terlihat begitu teduh, alih-alih terlihat kosong seperti saat terjaga. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Kalau dulu, bapak melihat putrinya ini masih terjaga di jam segini, pasti langsung keluar segala celotehan omelannya itu. Dan selalu diakhiri dengan, hangatnya panggilan "Gendukku Sayang".
Ahh, panggilan itu. Aku diam, getir.
Bagaimana ini, Pak?
Putrimu mulai kesulitan mengingat suaramu.
Seperti bapak yang lupa memanaskan motorku, lupa memastikan tangki bensinku selalu terisi, lupa mantel yang harus terlipat rapi dan tak lembap. Lupa berbagi kelucuan acara lawak kesukaanmu, dengan celotehan panjang yang selalu kutunggu. Ah, juga bagaimana bapak yang tidak lagi ingat betapa bapak suka sekali dengan kue putu.
Boleh gak Pak, aku berandai-andai.
Di kepala bapak, cukup aku yang masih menjadi anak kecil berseragam merah putih.
Selalu menuntut disambut dengan suara riang.
Karena jika memang begitu, aku bersyukur. Sungguh itu sudah sangat lebih dari cukup.
Aku tidak suka dilupakan pak. Terlebih jika ingatan bapak dihentikan tanpa permisi. Seperti kata dokter itu.
Aku takut. Diamnya bapak, membuat aku ikut,
lupa,
suara bapak.
Magelang, 13 Februari 2026
Comments
Post a Comment