Susu Hangat Buatan Ibu

Tidak ada yang spesial di sore hari ini. Masih sama seperti sore-sore sebelumnya. Jadi waktu bermainnya anak-anak gang yang baru saja pulang mengaji dari TPQ. Berlarian sana-sini dengan mulut yang tak henti bercuap-cuap atau bahkan saling berteriak. Tangan-tangan kecil yang sibuk menggenggam jajan dan mainan. Itu kalau berpindah ke tanganku, rasanya tidak akan sepenuh itu. Ukuran tanganku tentu sudah jauh lebih tumbuh dibanding mereka. Sepertinya, dua kali lipat lebih besar. Lanturan yang reflek saja keluar dari mulutku. 
Di balik pemandangan anak-anak yang begitu berisik dengan dunianya itu, mataku menangkap satu sosok anak. Rambut kuncir duanya terlihat berantakan. Anak rambutnya mencuat ke segala sisi karena ditimpa jilbab saat mengaji. Jilbabnya sendiri, sudah dalam posisi terlepas dan tersampir di bahunya. Dia menggendong tas bergambar hello kitty, karakter yang juga sangat kusukai dulu. Dari tingkahnya, sudah dapat dipastikan betapa badungnya dia. Hidungnya sibuk mengendalikan si ingus agar tidak mencuat keluar. Tangannya sangat ramai, dipenuhi gelang plastik berbagai warna. Gerak-gerik si anak, tengah sangat fokus memenangkan permainan lompat karet. Baju muslimnya sudah ia singkap, memperlihatkan lututnya yang penuh bekas jatuh. Aku jadi penasaran, di balik gelang-gelang itu, apa dia juga punya goresan-goresan seperti di lututnya? Seperti yang aku miliki juga.
Sesekali dia melompat terlalu cepat hingga gelang-gelang di tangannya saling bersenggolan dan memunculkan suara berisik lainnya. Tampak raut kesal tergambar di wajahnya, saat ia gagal melompati si tali karet yang dipegang temannya. 
Bukk!!! "Aaakk!!!" Anak itu terjatuh di lompatan tertingginya. Dia menangis sekencang-kencangnya. Pertanda bahwa dia amat sangat kesakitan. 
Huh, enak sekali rasanya. Bisa menangis sekencang itu.
Entah kapan tepatnya, anak itu tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapanku. Tangisnya sudah mulai mereda. Tangannya yang ramai dengan gelang warna warninya itu, menggenggam jariku. Katanya, "sakit sekali".  Deg, jantungku berdegup. Asing sekali rasanya.
Setelah menangis sampai akhirnya membuat ingus yang sedari tadi di tahannya keluar tak terkendali, si anak tiba-tiba mulai tersenyum. 
"Mau pulang deh" dia pergi begitu saja, berlari seolah sudah lupa dengan sakitnya. 
"Ibuuu, mau susuuu" ucap si anak sambil berlari.
Tiba-tiba, aku begitu ingin tahu keadaannya. Kakiku lantas mulai bergerak mengikuti lari kecilnya. Dia terus berlari, memasuki rumah berpagar hijau dengan halaman yang ramai ditumbuhi berbagai jenis anggrek. Bahkan ada sejumlah anggrek langka. Eh, kenapa aku bisa tahu? Entahlah. Aku juga bingung. Mungkin aku pernah menguliknya di internet secara tidak sengaja. Saat si anak datang, tangisnya kembali pecah. Kali ini disambut pelukan hangat dari ibunya yang langsung keluar rumah begitu mendengar suara anak tersayangnya itu. Tangan sang ibu, selain sibuk menenangkan tetapi juga sibuk mengelap ingus anaknya itu dengan ujung kerudung yang dikenakannya.
"Kenapa nduk? Jatuh lagi?" si ibu seperti sudah paham alasan di balik tangisan sang anak. Dan pertanyaan itu pun hanya disambut anggukan sembari memperlihatkan luka goresan di lututnya. 
"Ya Allah!!" si ibu tampak panik. Sepertinya luka kali ini sedikit lebih parah daripada hari-hari lainnya.
"Wes bismillah bentar lagi sembuh" si ibu meniup-niup luka si anak, seolah-olah terdapat mantra menyembuhkan dibalik tiupan itu. 
"Ini kayaknya obatnya butuh lebih banyak yaa. Mau pakai gelas lebih besar?" Yang dimaksud si ibu sepertinya susu yang tadi diteriakkan si anak.
Si anak, mengangguk semangat. Senyum merekah lebar di wajahnya. 
Si ibu berlalu ke dapur. Dari dalam, terdengar suara sendok beradu dengan gelas. Ting...ting...ting. Begitulah kira-kira bunyinya. Entah mengapa, aku suka bunyi itu. Menenangkan. 
Tak berapa lama, ibu kembali dengan segelas susu di tangannya. Asap tipis masih mengepul di atasnya. Aromanya, nikmat sekali. Reflek, aku meneguk ludah, ingin mencicipinya.
"Pelan-pelan nduk, masih agak panas"
Si anak menikmati susu yang sangat ingin kucoba itu dengan perlahan. 
Setiap tegukan hangatnya, seperti turut kurasakan.
Dulu setiap aku pulang dengan tangisan, ibu pasti juga menenangkanku dengan segelas susu hangat seperti ini. Deg. Apa ini? Itu, aku kah? 
"Udah gak sakit lagi" suara si anak sudah terdengar sangat riang usai menghabiskan susunya tanpa sisa.
"Alhamdulillah. Besok-besok, kalau main lebih hati-hati ya. Ibu ga suka ih lihat kamu kesakitan, nduk" 
Deg. Reflek aku melihat ke goresan-goresan samar di lenganku. Lalu arah mataku berlanjut turun ke lutut. Ada goresan samar juga di sana. Letaknya, sama seperti yang dimiliki anak itu.
Ah, kini aku ingat. Apakah sudah muncul ya? Secepat ini?
Kemarin, kata dokter, kalau aku mulai melihat hal-hal yang tidak ada, itu gejala kalau sakitku semakin parah. Namun, kok sepertinya yang disebut gejala itu justru rasanya seperti penyembuh, ya. 
Senyum tipis terukir di wajahku. 
Kalau ini hanya khayalanku…
tidak apa-apa.
Setidaknya di sini,
aku masih bisa pulang.
sebagai seorang putri 
yang punya ibu di sisinya,
bersama segelas susu hangat di tangan.

Magelang, 24 Februari 2026

Comments

Popular Posts