Sepotong Kue Cokelatku

"Bu, sepatu yang ini udah agak sempit nih" ucapku sembari sibuk mencucinya di kamar mandi.
"Oh ya?” Ibu mendekat, memeriksanya.
“Iya ya. Nanti pakai sepatu yang ibu taruh di atas lemari itu ya. Ukurannya pasti sudah cukup buat kamu sekarang.” sembari menunjuk salah satu kotak kardus sepatu yang sengaja ibu letakkan di atas lemari tv. Katanya supaya tidak berjamur dan dimakan rayap.
Aku mengangguk.
Suasana pagi di hari Minggu selalu diisi dengan kesibukan seluruh penghuni rumah. Bapak dengan motor kesayangannya, ibu dengan dapurnya, kakak dengan kamarnya, dan aku dengan kegiatan rutinanku. Mencuci semua peralatan sekolah yang kupakai. 
Tidak banyak sebenarnya, hanya seragam, lalu sepatu dan tas kalau sudah benar-benar kotor. Aku memang paling jago kalau soal menjaga kebersihan barang-barang yang kupakai. Sepertinya turunan dari ibu. Barang kalau di tangan ibu, dijamin bisa bertahan dan dipakai sampai tujuh turunan. Prinsip ibu, kalau masih layak pantang dimuseumkan.
Jika ibu sudah selesai dengan dapurnya, akan dilanjutkan dengan kegiatan rutin lainnya. Merapikan lemari, khususnya yang ada di kamar kakak. Memilah yang sudah kecil, dan memindahkannya ke lemari kecil milik kakak yang sudah tidak dipakai lagi.
"Dek, yang ini ibu ambil ya. Sudah kekecilan kan. Diganti sama yang ini" Ibu memperlihatkan salah satu dari dua mukenah yang sering kupakai. Sembari menggantinya dengan mukenah dari lemari kakak. 
Aku mengangguk, mengiyakan. 
Ibu memang lebih cepat sadar kapan saatnya barang-barang yang kupakai harus diganti. Entah karena sudah kekecilan, atau memang sudah terlalu lusuh. 
Bulan ini sepertinya memang sedang banyak yang perlu diganti.
Di kalender bonus dari toko emas yang tergantung di ruang tamu, ada dua tanggal yang dilingkari dengan spidol merah oleh ibu. Letaknya berdampingan. Katanya, supaya tidak lupa. Ah, hari itu ternyata akan datang minggu depan. 
Hari lahirku dan kakak. 
"Bu tahun ini kuenya aku mau yang rasa cokelat gimana?"
"Ibu sudah pesan dek, rasa tiramisu kayak yang dipengenin kakak"
Aku menghela nafas. Mengangguk. Pembicaraan selesai begitu saja. Dari dulu memang begitu. 
Ulang tahunku dan kakak memang tanpa disengaja hanya berbeda satu hari. Dan entah sejak kapan, mungkin sejak awal aku menginjak usia satu tahun, perayaannya diputuskan untuk dilaksanakan secara bersamaan. Di hari ulang tahun kakak. Kue akan ditiup terlebih dahulu oleh kakak, lalu aku selanjutnya. Dipotong terlebih dahulu oleh kakak, kemudian aku. Kupikir tahun ini akan sedikit berbeda, karena itu adalah hari ke tujuh belas tahunku. Seperti kakak dahulu. Tapi sepertinya ibu ingin semuanya praktis. Kakak dulu, baru adik kemudian. Seperti biasanya. Aku mengerti. Atau mungkin ibu lupa, kalau ini adalah perayaan ketujuh belas tahun untuk anak keduanya ini. 
Padahal, sudah terbayang kalau tahun ini seharusnya aku boleh memilih kuenya. Karena ini perayaan ketujuh belas tahunku. Aku boleh meminta lilin khusus berbentuk angka 17, bukan yang sudah sedikit meleleh. Aku boleh memotong kue yang masih berbentuk bulat utuh, bukan yang sudah hilang separuhnya. 
Tujuh belas tahun ternyata tidak mengubah apa pun.
Semua tetap praktis ala ibu.
Urutannya masih sama.
Kakak dulu.
Baru adik kemudian.
Hari itu akhirnya tiba. Semua bersiap dengan penuh semangat. Kakak yang sibuk bersolek di depan meja riasnya. Ibu yang memastikan tumpeng nasi kuningnya sudah tertata cantik. Bapak yang sibuk memastikan kameranya sudah ter setting dengan semestinya. Dan aku, yang terduduk diam di ruang tamu, menunggu semuanya siap berkumpul.
Hingga akhirnya kue tiramisu seperti yang diinginkan kakak diletakkan di atas meja. Seolah memang menjadi primadona dari acara ini. Lengkap dengan lilinnya yang selalu berjumlah lima. Kenapa lima, entahlah. Sejak dulu sudah seperti itu. 
Nyanyian ulang tahun mulai dinyanyikan dengan iringan tepuk tangan. Nama kakak disebut di sela-sela liriknya. Kakak menutup mata sejenak, membuat permohonan dan meniup lilinnya dalam sekali hembus untuk menjaganya tidak meleleh terlalu banyak. Setelah itu, memotong kuenya serapi mungkin, berusaha tidak merusak setengah bagiannya untuk giliranku.
Setelah kakak selesai dengan perayaannya, kini giliranku. Lilin kembali ditancapkan dan dinyalakan. Lagu ulang tahun kembali dinyanyikan, seolah-olah sebelumnya tidak ada perayaan yang sama. Masih dengan iringan tepuk tangan, yang lebih cepat berhenti. Kuucap permohonan dengan cepat tanpa menutup mata. Tidak sekhusyuk kakak. Permohonan yang sama, yang entah sejak kapan lebih terasa seperti kebiasaan daripada benar-benar harapan. 
Ibu lalu memberikan pisau yang sudah dilap dengan tisu. Memberikan padaku dengan hati-hati, seperti baru saja dikeluarkannya dari kotak kue. Setiap melihat adegan ini, aku merasa sedikit konyol. Entah kenapa harus dilap. Toh pisau itu akan digunakan untuk memotong kue yang sama. Seolah-olah dengan begitu, semuanya bisa terasa seperti perayaan yang berbeda. Aku lalu memotong kue dari bagian yang tersisa.
Acara selesai begitu saja. Kami semua kini sibuk membereskan semuanya. 
"Dek, sisa kuenya masukin kulkas ya" suara ibu dari arah dapur, di sela-sela bunyi piring yang sedang dicucinya.
Aku lantas segera beranjak ke dapur sembari membawa kue yang ternyata sangat tidak cocok dengan lidahku itu. Saat membuka kulkas, sebuah potongan kecil berbentuk segitiga sepenuhnya menarik perhatianku. 
"Bu, ini apa?" segera kutanyakan benda mungil yang terlihat menggiurkan itu pada ibu. 
"Oh iya ibu lupa. Tadi pas ambil kue, ibu ditawarkan bonus. Jadi ibu ambil aja itu. Kalau mau, makan aja"
Aku terdiam sejenak.
"Jadi...ini, boleh buat aku?" tanyaku ragu.
Ibu mengangguk acuh.
Aku lantas membuka kotak kecil itu, perlahan.
Sepotong kue cokelat tersusun rapi. Tidak miring, tidak terpotong sembarangan. Pinggirannya utuh. Krimnya masih penuh, tanpa ada bekas lelehan lilin. 
Sepotong kue cokelat itu tampak utuh.
Sepotong kue cokelatku.

Comments

Popular Posts