Kota yang Tidak Ikut Pergi
Seperti biasanya, kami hanya saling melemparkan pandangan sekenanya dan bertukar senyum canggung sebagai bentuk sapaan. Hingga hujan di malam ini, merubah segalanya. "Belum datang jemputannya?" obrolan itu, keluar lebih dulu dari mulutku. Penuh keragu-raguan. Setelah kuputuskan melewatkan bus yang seharusnya kutumpangi. Dia hanya menggeleng pelan, raut wajahnya tampak mulai gelisah usai melihat jarum jam di tangannya. "Saya tunggu," lagi-lagi kalimat tak terduga, keluar dari mulutku. "Terimakasih" akhirnya aku mendengar suaranya. Usai selama beberapa bulan ini, hanya saling bertegur sapa lewat senyum canggung. Selama beberapa menit, kami hanya saling diam. Kenapa canggung? karena pada dasarnya kami hanyalah dua orang asing. Yang sama-sama kerap berada di halte yang sama, pada jam yang terlalu sering disebut kebetulan. "Mau ikut mendengarkan?" lagi-lagi, aku memilih berusaha memecah keheningan yang semakin membuat suasana terasa begitu canggu...