Skip to main content

Posts

Featured

Kota yang Tidak Ikut Pergi

Seperti biasanya, kami hanya saling melemparkan pandangan sekenanya dan bertukar senyum canggung sebagai bentuk sapaan. Hingga hujan di malam ini, merubah segalanya.  "Belum datang jemputannya?" obrolan itu, keluar lebih dulu dari mulutku. Penuh keragu-raguan. Setelah kuputuskan melewatkan bus yang seharusnya kutumpangi. Dia hanya menggeleng pelan, raut wajahnya tampak mulai gelisah usai melihat jarum jam di tangannya.  "Saya tunggu," lagi-lagi kalimat tak terduga, keluar dari mulutku.  "Terimakasih" akhirnya aku mendengar suaranya. Usai selama beberapa bulan ini, hanya saling bertegur sapa lewat senyum canggung.  Selama beberapa menit, kami hanya saling diam. Kenapa canggung? karena pada dasarnya kami hanyalah dua orang asing. Yang sama-sama kerap berada di halte yang sama, pada jam yang terlalu sering disebut kebetulan.  "Mau ikut mendengarkan?" lagi-lagi, aku memilih berusaha memecah keheningan yang semakin membuat suasana terasa begitu canggu...

Latest Posts

Semangkuk Makanan Hangat

Tawa Kumba yang Hilang

Dua Puluh Ribu Teristimewa

Tak Sempat Tersinggahi

Bincang Manis di Sore Itu

Waktuku, tidak lagi Berhenti di Kamu

Kala Rembulan Mengintip, di Langit Malam yang Sedang Mendung

Dia, si Pemilik Sepatu Lusuh

Jali si Anak Petani

Dari Ibu